Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Mengenal Anak Pra-Remaja (Umur 12-14 Tahun)


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Pertumbuhan anak Tunas Remaja sering mengejutkan, karena tiba-tiba tubuh mereka berubah cepat dan kita tidak lagi bisa mengenali mereka sebagai anak-anak. Namun demikian di balik tubuh yang bertumbuh tsb. keadaan kejiwaan mereka masih kekanak-kanakan. Hal ini sering membingungkan anak Tunas Remaja, karena meskipun mereka tidak lagi dianggap anak-anak tapi mereka belum bisa diterima di lingkungan orang dewasa. Marilah kita mengenal mereka lebih dekat:

A. Ciri Khas Secara Jasmani

  1. Pertumbuhan fisik berkembang sangat pesat, sehingga mengakibatkan ketidakstabilan. Mereka merasa resah karena hal tersebut, untuk itu mereka membutuhkan perhatian dan pengertian, serta makanan yang bergizi.
  2. Berat dan tinggi badan anak perempuan bertambah lebih cepat dari anak laki-laki. Rata-rata anak perempuan memang memiliki kedewasaan fisiologis dua tahun lebih cepat dibanding anak laki-laki. Baik laki-laki maupun perempuan pada usia ini amat peka akan keadaan fisik mereka. Karena itu, dalam membina hubungan yang sehat, jangan biarkan mereka (termasuk gurunya) membuat gurauan/ledekan mengenai keberadaan fisik anak-anak ini.
  3. Sudah mulai mengalami proses kematangan seksual, dimana anak perempuan mulai mengalami mensturasi. Guru wanita sebaiknya mulai menyadari hal ini dengan memberikan waktu untuk berbicara secara pribadi kepada mereka, karena sering mereka malu berbicara tentang hal ini dengan orang tua mereka sendiri.
  4. Pita suara semakin dewasa, yang menyebabkan suara anak laki-laki berubah. Besar kemungkinan sebagian anak laki-laki merasa malu karenanya dan enggan untuk menyanyi. Untuk itu, guru dengan bijaksana harus menyadari hal ini dan tidak memberi celaan kalau suara mereka mengganggu dalam paduan suara. Sebaliknya berikan dorongan pada mereka, tapi bukan dengan paksaan.
  5. Pertumbuhan jasmani yang pesat mengakibatkan gerak-gerik anak pra-remaja menjadi kurang lincah, misalnya: mudah menumpahkan sesuatu, kakinya tersandung, dsb. Masa ini dapat menjadi masa usia dimana mereka seringkali merasa kikuk. Oleh karena itu guru sebaiknya bersikap sabar dan penuh pengertian pada mereka.
  6. Memasuki masa remaja, anak-anak ini tidak lagi terlalu suka melakukan berbagai permainan/kegiatan yang menuntut aktivitas seluruh anggota tubuh mereka (seperti layaknya dilakukan oleh anak-anak usia pratama dan madya). Mereka sekarang cenderung menyukai permainan kelompok, permainan yang mempunyai peraturan tertentu serta menuntut ketrampilan. Ketrampilan, keahlian serta kemampuan fisik merupakan sesuatu yang amat penting, terutama bagi anak laki-laki.

B. Ciri Khas Secara Mental

  1. Inilah usia dimana seorang anak memiliki kepekaan intelektual yang tinggi, suka mengadakan eksplorasi, diliputi perasaan ingin tahu, dan amat berminat terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya. Penting bagi guru untuk merancang berbagai program/aktivitas menarik yang mampu merangsang daya pikir serta kreativitas mereka.
  2. Pada usia ini, seorang anak senang berdebat dan mengkritik. Mungkin kalimat yang diucapkannya kedengaran kurang sopan, namun demikianlah caranya mencari tahu mengenai dunia sekitarnya. Guru sebaiknya tidak mudah tersinggung dan marah, melainkan belajar untuk memahami dan mengenali maksud pertanyaan di balik kalimat mereka yang mungkin kedengaran sangat tidak sopan atau kasar tsb.
  3. Menuntut segala sesuatu yang logis dan bisa diajak berpikir secara serius. Tapi, daya pengertian mereka masih terbatas oleh kurangnya pengalaman hidup. Diskusi terpimpin merupakan aktivitas yang disukai anak-anak usia pra-remaja. Bila memungkinkan, guru dapat menghadirkan "tokoh" jemaat dalam diskusi tsb. (misalnya pendeta, dokter, dosen, pengacara, dsb).
  4. Anak pra-remaja cenderung terlalu mudah mengambil kesimpulan terhadap suatu hal, juga dalam pengambilan keputusan. Mengingat pengalaman hidup yang masih sangat terbatas, mereka masih memerlukan bimbingan dalam banyak hal. Oleh karena itu, kedekatannya dengan guru/pembimbing Rohani di gereja memainkan peranan yang sangat penting, khususnya bagi mereka yang sedang mengalami masa remaja yang penuh konflik dengan orangtua.
  5. Mereka masih suka berimajinasi, tapi kali ini pikiran dan imajinasinya mendasari berbagai pengharapan dan tujuan yang ada di dalam hatinya. Seringkali mereka menjalani hidupnya menurut teladan orang-orang yang dikaguminya, kadang mereka membayangkan diri mereka menjadi seperti tokoh idolanya tersebut. Usahakan agar anak-anak usia pra-remaja ini dapat bertemu dengan orang- orang yang dapat menantangnya pada kehidupan kristen mereka yang menarik.
  6. Mereka mulai peka melihat dan mengalami ketidaksinambungan yang mencolok antara kepercayaan dan praktek. Meskipun anak pra-remaja memiliki pengetahuan tentang benar dan salah, kadang-kadang kehendak mereka untuk melakukan apa yang benar -- seperti yang diyakininya, tidak ada. Untuk itu, guru harus acapkali menekankan pentingnya mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan iman percaya mereka.

C. Ciri Khas Secara Emosi

  1. Emosinya tidak stabil, sebentar naik, sebentar turun. Suatu saat mereka merasa sangat senang, tapi tidak lama kemudian mereka dapat menjadi marah atau sedih. Seringkali mereka tidak dapat mengendalikan perasaan-perasaannya tersebut. Guru sebaiknya bertindak sabar dan penuh pengertian dalam membimbing mereka. Penjelasan dari sudut pandang ilmu psikologi mungkin diperlukan untuk memberikan "alasan logis" pada mereka mengenai apa yang tengah terjadi di dalam diri mereka pada usia pra-remaja ini, tapi pastikan bahwa materi yang disampaikan tidak bertentangan dengan Firman Tuhan.
  2. Sering berubah dan tak menentu. Ada kalanya mereka bersukaria dan lincah, tapi ada kalanya juga bermuram durja, bahkan ingin melarikan diri dari kenyataan hidup yang tidak bisa diterimanya. Hal ini wajar terjadi dalam diri anak pra-remaja, asal tidak berlangsung terus-menerus dalam jangka waktu yang cukup panjang. Dalam hidupnya, memang anak-anak usia pra-remaja sering mengalami keresahan, kebimbangan, bahkan tekanan. Mereka memerlukan bimbingan dari orang dewasa yang dapat mengerti dan memahami mereka sebagaimana adanya. Mereka membutuhkan kehadiran guru yang dapat menjadi "teman baik" mereka dalam menghadapi berbagai pergumulan hidupnya.

D. Ciri Khas Secara Sosial

  1. Boleh dikatakan seorang anak pra-remaja akan melakukan apa saja untuk memperoleh atau mempertahankan statusnya di dalam sebuah kelompok. Bilamana seorang anak diombang-ambingkan oleh tekanan dari teman sebaya, ia perlu sekali mengetahui apa standar Allah mengenai masalah yang sedang dihadapinya. Ia perlu diyakinkan bahwa seluruh kuasa Allah tersedia baginya untuk menolongnya mengatasi konflik pribadi tsb.
  2. Hubungan antara laki dan perempuan dapat menjurus pada hal-hal yang kurang sehat, apalagi dengan pengaruh media yang ada saat ini. Akan lebih ideal bila laki-laki dibimbing oleh guru/ pembimbing pria dan anak wanita dengan guru/pembimbing wanita.

E. Ciri Khas Secara Rohani

  1. Dalam menghadapi pergumulan jiwa seorang anak pra-remaja, pertahanan yang terbaik adalah melakukan suatu serangan. Jika mereka diberi kesempatan-kesempatan yang penuh tantangan untuk aktif bagi Kristus, mereka akan bertumbuh secara rohani.
  2. Tidak seperti usia sebelumnya, mereka saat ini tidak lagi beribadah karena paksaan orangtua. Mereka sudah mulai memiliki pendirian dan keputusan sendiri. Oleh karena itu, guru harus dapat membangkitkan minat mereka terhadap hal-hal rohani dan menyediakan atmosfir yang menyenangkan dalam persekutuan pra- remaja, bila tidak, mereka akan segera tertarik pada kelompok lain di luar gereja yang mungkin dapat menjuruskan mereka ke hal-hal yang bertentangan dengan iman percayanya.
  3. Mereka membutuhkan contoh konkrit, pengalaman yang nyata, serta relevansi pengajaran yang diterimanya dari Gereja dalam kehidupannya sehari-hari. Karena itu, berikanlah ajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan pergumulan mereka, misalnya: pengenalan diri, emosi dan kehendak, pergaulan yang sehat, penerimaan diri, dsb.
  4. Memiliki banyak pertanyaan tentang kebenaran, mereka sedang mencari kebenaran yang sejati. Oleh karena itu, doronglah mereka untuk berani bertanya dan memberikan pendapat. Berikanlah bimbingan dengan sabar, dan jangan sekali-kali mengabaikan pertanyaan mereka (meski terdengar sangat konyol dan sepele bagi guru). Untuk itu guru harus banyak belajar dan berpengetahuan untuk dapat menolong mereka dengan bijaksana.
  5. Dapat mengalami kehidupan yang berpusat pada Kristus. Bilamana demi Kristus, seorang anak secara pribadi memutuskan untuk melakukan apa yang diketahuinya benar walaupun ia sudah tahu bahwa konsekuensinya mungkin tidak menyenangkan, maka ia sudah mulai memasuki proses ke kedewasaan moral dan spiritual.
  6. Teladan hidup orang dewasa amat penting bagi mereka. Tantangan besar bagi para pembimbing anak pra-remaja adalah menjadikan dirinya sendiri melaksanakan apa yang telah diajarkannya (walk the talk), bila tidak, kita sedang mengajarkan pada mereka untuk menjadi orang yang munafik, yang tidak memiliki integritas iman di dalam hidupnya.

Tanpa kita sadari, sebagai guru/pembimbing anak pra-remaja, kita telah memainkan peran yang sangat penting dan menentukan dalam kehidupan anak-anak itu. Seringkali, anda merupakan mata rantai penghubung kepada Allah yang paling vital bagi seorang anak pra-remaja, bahkan, mungkin satu-satunya!

Para orangtua yang sedang mengalami konflik dengan anaknya (bahkan, yang memiliki hubungan yang cukup harmonis) sangat membutuhkan Anda. Kesaksian Anda sebagai guru/Pembimbing anak pra-remaja dalam mengajarkan kebenaran dan iman kristen mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan mereka.

Barangkali cuplikan pembicaraan di bawah ini dapat menguatkan Anda untuk tetap setia dan makin giat melayani anak-anak pra-remaja yang sudah Tuhan percayakan pada Anda:

Inilah kata seorang anak pra-remaja tentang guru Sekolah Minggunya: "Saya heran mengapa Ibu Anita (GSM-nya) selalu mengatakan hal-hal yang sama dengan apa yang Ibu saya katakan, dan saya selalu langsung menerima apa yang dikatakannya. Tetapi kalau Ibu saya sendiri yang mengatakannya, sampai 50 kali baru saya mau dengarkan."

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Buku: 
Pembaruan Mengajar
Pengarang: 
Dr. Mary Go Setiawani
Halaman: 
29 - 31
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup
Kota: 
Bandung

Komentar