Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Tolong! Saya Harus Bercerita!


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Mungkin akan sedikit menakutkan ketika kita diminta mendongeng sebuah cerita. Hal pertama yang harus diingat adalah jangan panik. Karena bisa jadi, Anda lebih berpengalaman daripada apa yang Anda cemaskan. Hanya sedikit orang yang mencapai masa dewasanya tanpa pernah mendengarkan cerita yang dibacakan untuk mereka, membaca cerita sendiri, dan mungkin bercerita untuk orang lain. Pikirkan bagaimana Anda menikmati sebuah gaya bercerita dan simpan hal itu dalam pikiran selama Anda mempersiapkan diri Anda sendiri. Ingat kembali berbagai pengalaman dalam bercerita yang pernah Anda lakukan di masa lalu. Mungkin Anda pernah bercerita secara langsung kepada sekelompok orang atau waktu Anda tidak harus bercerita secara langsung, misalnya melawak, menceritakan sebuah anekdot, menggambarkan liburan atau peristiwa-peristiwa tertentu, mengingat kembali peristiwa lucu atau sedih yang pernah Anda alami.

Membaca Keras Melawan Bercerita dari Ingatan

Anda harus yakin bahwa dengan membaca cerita sesuai nada dan intonasi yang baik maka:

  • Anda akan mendapatkannya dengan tepat;
  • Anda tidak akan mencoba dan mengingat segala sesuatu yang lebih rinci;
  • Anda tidak akan meninggalkan sesuatu yang penting;
  • Anda akan lebih percaya diri dengan sebuah buku atau cerita yang tertulis di depan Anda;
  • Anda masih perlu latihan tetapi lebih sedikit daripada bercerita tanpa membaca dengan keras.

Bercerita tanpa membaca teks akan:

  • membuat Anda lebih mudah mengadakan kontak mata;
  • membantu Anda melihat minat anak-anak sehingga Anda bisa merespons hal itu dengan cepat;
  • membantu setiap pendengar untuk terlibat dalam cerita;
  • membantu orang yang kurang percaya diri.

Berceritera Seperti yang Kitab Suci Ceritakan

  • Bisakah cerita itu dibacakan kepada anak-anak?
  • Bisakah Anda menemukan buku cerita Kitab Suci anak-anak untuk dibaca?
  • Bisakah Anda menuliskan cerita itu dengan lebih sederhana dengan bahasa Anda dan membacakannya dengan keras?
  • Akankah Anda menceritakan sesuatu dengan bahasa Anda sendiri tanpa teks?

Memilih Cerita Kitab Suciku Sendiri

Jika Anda memerlukannya, mintalah bantuan untuk menemukan sebuah cerita dengan satu tema yang jelas. Karena banyak cerita yang sangat luas dan akan membutuhkan banyak waktu untuk menceritakannya. Mungkin mereka sangat puas di akhir cerita jika setiap orang telah bekerja sesuai tugasnya, tetapi anak-anak mungkin akan meninggalkan ruangan selama proses bercerita berlangsung.

Idealnya, cerita Anda seharusnya berisi drama, ketegangan, dan konflik. Pilihlah sebuah cerita yang memunyai alur yang jelas, baik pada bagian awal, bagian tengah, maupun pada bagian akhirnya. Bagian awal seharusnya berisi situasi, keadaan sulit, konflik, atau kedaruratan. Bagian tengah berisi tentang ketegangan, keadaan bahaya, serta klimaks yang lalu mencapai penyelesaian.

Contoh cerita Kitab Suci: Yesus meredakan Angin Ribut (Markus 4:35-41).

  • Bagian awal: Yesus dan murid-murid-Nya sedang menyeberangi danau dengan perahu. Cuaca begitu tenang, tidak ada tanda-tanda akan ada angin ribut. Yesus pun tertidur.
  • Bagian tengah: Angin topan bertiup dengan kencang disertai hujan. Ombak menyembur masuk ke dalam perahu sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Para murid mulai panik dan ketakutan, meskipun beberapa dari mereka adalah nelayan yang sudah berpengalaman dengan badai taufan. Tetapi kali ini adalah badai yang terburuk. Mereka nyaris tenggelam. Yesus masih tertidur. Murid-murid-Nya membangunkan Yesus dan menuduh-Nya tidak memedulikan keadaan tersebut.
  • Klimaks: Yesus pun bangun, menghardik angin itu dan berkata: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Yesus mendamprat murid-murid-Nya karena tidak percaya kepada-Nya. Murid-murid-Nya pun takjub akan kekuatan-Nya, dan mereka menyadari bahwa Dia adalah Anak Allah.
  • Inti cerita: Yesus menunjukkan kuasa Allah yang besar.
  • Aplikasi: Yesus memiliki kekuatan untuk selalu menjagaku.

Sekarang Giliran Anda ....

  • Akankah Anda membacakan cerita yang telah Anda pilih untuk anak-anak?
  • Dapatkah Anda menemukan buku cerita anak-anak tentang Kitab Suci untuk dibacakan?
  • Apakah Anda akan menulisnya dengan bahasa Anda sendiri lalu membacakannya?
  • Dapatkah Anda menulisnya dengan bahasa Anda sendiri lalu membacakannya dengan keras?
  • Apakah Anda akan menceritakannya dengan bahasa Anda sendiri berdasarkan ingatan Anda? Anda bisa memegang buku atau Kitab Suci untuk berjaga-jaga jika Anda lupa bagaimana kisah berikutnya, atau tuliskan garis besarnya dalam kartu-kartu untuk membantu Anda mengingatnya kembali.

Menyampaikan Cerita Fiksi

Jika Anda merasa asing dengan cerita fiksi anak-anak, Anda perlu mencari petunjuk atau saran. Kunjungi perpustakaan anak setempat dan tanyakan daftar buku yang paling populer dan sesuai dengan usia anak-anak yang berhubungan dengan Anda. Jika Anda mengenal seseorang yang juga mengajar anak-anak seperti Anda, mintalah nasihat atau saran kepadanya.

Bacalah beberapa contoh dengan nada yang keras, hitung waktunya dan tambahkan beberapa menit lagi. Carilah salah seorang yang Anda rasa nyaman dengannya, dan pikirkan apa yang terbaik untuk pendengar-pendengar Anda dan tenggat waktu yang Anda berikan. Jangan khawatir jika anak-anak mengatakan kalau mereka tidak siap mendengar ceritanya. Anak-anak yang lebih muda biasanya menyukai dan menikmati pengulangan. Anak yang lebih tua dapat disuruh untuk mendengarkan dengan cermat dan setelah itu mengatakan alasan mereka mengapa mereka berpikir bahwa cerita itu adalah cerita yang populer untuk anak seusia mereka.

  • Apakah Anda akan membaca cerita pilihan Anda dari buku?
  • Apakah Anda akan menulis dan membacanya dengan bahasa Anda sendiri?
  • Apakah Anda akan menceritakannya dengan bahasa Anda sendiri tanpa teks? Anda bisa memegang buku untuk berjaga-jaga jika Anda lupa apa yang terjadi selanjutnya atau menuliskan garis besarnya dalam kartu untuk membantu Anda.

Membuat Cerita Sendiri

Setiap orang pasti memunyai cerita sendiri, entah itu diambil dari pengalamannya atau pengalaman orang lain. Bagaimanapun juga, jika Anda belum pernah melakukan sebelumnya, Anda perlu berlatih untuk menuliskan pengalaman di atas kertas dan menjadikannya sebagai suatu jenis cerita. Jika Anda benar-benar perlu menyampaikan cerita Anda sendiri maka:

  • buatlah cerita sependek mungkin;
  • gunakan prinsip-prinsip yang sama seperti cerita-cerita yang lain, misalnya dengan memberikan drama, ketegangan, dan adanya konflik;
  • berikan awal yang bagus dan situasi yang tepat;
  • berikan bagian tengah juga, bangunlah rasa penasaran, ketegangan, dan drama.
  • berikan akhir ceritanya, lalu tunjukkan penyelesaiannya;
  • jika Anda berharap untuk mengambil suatu inti cerita dari cerita tersebut, buatlah sesingkat mungkin;
  • buatlah garis besar yang singkat untuk membantu agar tetap berada pada alur cerita selama Anda bercerita.

Apalagi yang Mungkin Diperlukan?

Pikirkan usia dan kemampuan anak-anak yang akan mendengarkan cerita Anda. Lihatlah melalui bab sebelumnya untuk mengetahui jika ada satu atau dua ide sederhana yang dapat Anda masukkan untuk menambah dimensi lain dalam cerita Anda. Untuk membantu Anda berkonsentrasi pada cerita Anda, mintalah seseorang untuk membantu Anda. Berlatihlah dengannya.

Jika Anda ingin membawakan cerita Anda dalam sebuah "setting", mintalah bantuan untuk memikirkan ide-ide dan mengaturnya. Beberapa ide telah diberikan dalam bab sebelumnya. Sekarang Anda memiliki cukup bekal untuk bercerita.

Latihan

Apa pun jenis cerita Anda, dan metode mana pun yang Anda pilih, Anda masih tetap perlu latihan.

  • Ketahuilah isi cerita Anda meskipun Anda akan membacakan ceritanya dengan keras.
  • Lihatlah diri Anda saat membaca atau bercerita di depan kaca.
  • Hal ini akan membantu Anda membuang ekspresi dan tingkah laku yang tidak baik.
  • Ingatlah untuk selalu tersenyum dan rileks.
  • Jangan membuat cerita yang membingungkan dan ambil nafas untuk jeda.
  • Tetap antusias pada cerita Anda.
  • Cobalah untuk menyelipkan improvisasi, lelucon, serta permainan perasaan.

Bagaimana Jika Salah?

Semua orang membuat kesalahan ketika sedang membawakan sebuah cerita, khususnya ketika kita tidak menguasainya. Kita mungkin merasa bahwa pengalaman buruk merupakan sebuah bencana. Apa pun yang terjadi, jangan pernah menyerah! Kita akan memperbaiki rasa percaya diri dan kemampuan selama kita terus berlatih dan terus berbenah. Sering kali anak-anak tidak memerhatikan kesalahan, dan meskipun mereka memerhatikannya, mereka cenderung tidak banyak komentar dibandingkan dengan orang dewasa.

Lupa Mengatakan Sesuatu yang Sangat Penting!

Jika Anda lupa mengatakan sesuatu yang sangat penting, berhentilah dan katakan, "Oh saya lupa sesuatu yang sangat penting ...." lalu katakan apa yang terlewatkan, lalu lanjutkan ceritanya.

Tidak Fokus dan Kehilangan Perhatian Anak-anak!

Ketika Anda menyadari hal itu, berhentilah dan tanyakan kepada mereka, "Tadi sampai di mana, sebelum saya nyelonong?" Anak-anak akan menjawabnya jika mereka tahu. Maka kembalilah ke poin terakhir, ulangi dengan cepat, dan lanjutkan kembali ceritanya.

Dalam Latihan Butuh Sepuluh Menit, Tetapi Praktiknya Hanya Lima Menit

Jika kita gemetar, kita akan berbicara dengan cepat. Atur kecepatan Anda dalam berbicara dan jangan lupa ambil napas untuk jeda. Siapkan suatu kegiatan, lagu atau syair yang berhubungan dengan cerita Anda, sebagai persiapan jika ternyata Anda bisa menyelesaikannya lebih awal. Untuk anak yang lebih tua, siapkan beberapa pertanyaan singkat, atau mintalah agar mereka ganti bercerita untuk Anda tentang cerita yang baru saja mereka dengar.

Kehilangan Perhatian Anak-anak!

Jika Anda kehilangan perhatian anak-anak dan tidak bisa mengembalikannya, selesaikanlah cerita Anda secepat mungkin lalu berpindahlah kepada hal selanjutnya dalam program Anda. Katakan pada anak-anak bahwa Anda akan melakukannya lebih baik lagi di lain waktu. Belajarlah dari pengalaman, tetapi jangan terlalu dipikirkan sehingga membuat Anda tidak pernah mencobanya lagi.

Salah Satu Anak Ketakutan dan Mulai Menangis

Sebagian besar anak-anak memiliki imajinasi yang jelas. Bahkan beberapa di antaranya sangat sensitif dan dengan mudah mengenali tokoh-tokoh dalam cerita Anda. Berpikirlah dengan hati-hati tentang peperangan atau bagian yang sensitif secara emosional dan cobalah untuk menemukan keseimbangan antara membuatnya senang, sedih, atau tegang.

Jika Anda melihat ada anak yang kecewa, beritahu tenaga pendamping untuk menenangkannya. Kemudian bicaralah dengannya dan sampaikan permohonan maaf karena membuatnya kecewa. Pastikan mereka mengerti bagaimana cerita berjalan, dan ingatkan mereka tentang bagian-bagian yang baik atau lucu dari cerita Anda.

Setelah itu, lanjutkan cerita Anda meskipun begitu menyakitkan bagi Anda. Lihatlah poin-poin yang baik dan berikan tepukan ke pundak Anda sendiri. Perkirakan kira-kira di mana Anda telah berbuat kesalahan. Tanya pada seseorang yang Anda percayai dari tim Anda untuk mengatakan dengan jujur, tetapi lembut, bagaimana sebaiknya Anda berbenah diri. Jangan pernah menyerah. Bercerita bisa jadi menakutkan, pekerjaan yang berat, memakan waktu, pembawa malapetaka atau kegembiraan. Bercerita meminta Anda untuk selalu siap bertindak dan menjadi apa saja pada suatu waktu, untuk membuat setiap orang terlibat dalam cerita Anda. Tetapi ketika Anda memberikan apa yang Anda miliki, Anda akan menemukannya sebagai suatu kegembiraan yang terbesar dan pengalaman yang bermanfaat karena telah bekerja dengan anak-anak.

Kategori Bahan PEPAK: Metode dan Cara Mengajar

Sumber
Judul Artikel: 
Mengajar Cerita Alkitab
Judul Buku: 
Gaya Bercerita yang Efektif
Pengarang: 
Ruth Alliston
Halaman: 
105 -- 114
Penerbit: 
Prestasi Pustaka Kasih, Jakarta 2005

Komentar