Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Mengajar Anak yang Mengalami Gangguan Penglihatan


Jenis Bahan PEPAK: Tips

Menghadirkan konsep rohani yang nyata dengan cara-cara yang konkrit merupakan hal yang perlu diperhatikan ketika mengajar anak yang mengalami gangguan penglihatan. Dengan adaptasi yang minim terhadap penggunaan bahan mengajar, ditambah dengan guru yang berkomitmen untuk memberikan perintah-perintah yang Alkitabiah, anak-anak tersebut tidak hanya dapat melihat kebenaran rohaniah melalui firman Tuhan saja, namun juga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari- hari. Berikut metode yang dapat kita gunakan untuk mengajar anak dengan kelemahan pada penglihatan.

  1. Karena anak-anak yang buta tidak dapat menangkap informasi melalui penglihatan mereka, guru harus menggunakan indra pendengar, peraba, pengecap, dan pembau saat menyampaikan pelajaran. Guru harus semaksimal mungkin menggunakan kesempatan mengajar melalui indera-indera tersebut. Janganlah membatasi perintah atau keterangan dengan satu cara tertentu saja, tetapi gunakanlah kombinasi dari indra-indra tersebut.
  2. Guru sebaiknya mengingat bahwa humor dan intonasi suara merupakan hal yang penting ketika mengajar anak yang memiliki kelemahan pada penglihatan ini.
  3. Penjelasan verbal yang diberikan guru harus jelas dan tidak berbelit-belit. Guru harus spesifik dalam memberikan perintah atau meminta tanggapan. Hindarilah penjelasan atau pertanyaan yang tidak jelas.
  4. Karena beberapa anak yang memiliki kelemahan dalam penglihatan menggunakan braille, harus disediakan Alkitab, kurikulum, dan bahan-bahan lain dalam bentuk braille.
  5. Guru harus menggunakan musik untuk membantu anak yang buta agar terdorong membagikan pengalaman atau bersaksi. Dorong mereka untuk bernyanyi di depan kelas. Musik dapat memberikan rasa aman, merangsang pikiran, dan membantu murid yang buta untuk membangun suatu pengertian tentang firman Allah dan pesan yang disampaikan. Musik juga dapat memberikan kesempatan pertumbuhan mental, spiritual, dan sosial.
  6. Krayon, kertas, pensil, tanah liat, dan cat air semuanya dapat membantu anak yang memiliki kelemahan pada penglihatan untuk mengekspresikan emosi mereka. Ekspresi emosi ini dapat membantu anak menunjukkan dan mengutarakan kepribadian mereka. Sering kali anak tidak dapat mengutarakan maksud mereka secara verbal. Bantulah mereka untuk mengekspresikannya melalui seni dan keterampilan. Meskipun untuk melakukannya mereka membutuhkan bimbingan yang lebih daripada anak-anak lain, cara ini akan memberi kesempatan kepada anak yang memiliki kelemahan penglihatan untuk mengekspresikan diri dan menunjukkan talentanya melalui cara-cara yang mungkin tidak dapat diekspresikan oleh anak yang dapat melihat dengan baik. Keterampilan ini harus menarik bagi anak dan menjadi langkah untuk mempelajari Allah dan kehidupan secara menyeluruh.
  7. Main sandiwara ("role play") dapat membantu anak menjadi terbiasa dan mengingat peristiwa, ide-ide, dan situasi kisah-kisah dalam Alkitab. Kegiatan ini juga dapat membantu mereka mengingat kejadian-kejadian di rumah mereka dan situasi lainnya. Berbagai pengalaman dapat diperagakan, bahkan pengalaman-pengalaman dari situasi nyata yang dialami oleh anak sepanjang minggu itu.

Anak-anak yang memiliki kelemahan pada penglihatan juga sangat memerlukan Yesus Kristus dan gereja, sama seperti anak-anak yang memiliki penglihatan sempurna. Melalui partisipasi dalam penyembahan dan perintah-perintah dalam gereja, anak-anak yang memiliki kelemahan pada penglihatan ini bisa mengerti dan mengasihi Tuhan Yesus sehingga hidup mereka dapat diperkaya.(t/Ratri)

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Buku: 
Childhood Education in the Church
Pengarang: 
Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck
Halaman: 
173 - 174
Bab: 
Teaching Exceptional Children: Visually Handicapped Children
Penerbit: 
Moody Press
Kota: 
Chicago
Tahun: 
1986

Komentar