Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Kesatuan dalam Mendisiplin


Jenis Bahan PEPAK: Tips

Tuntutan orang tua di rumah harus disesuaikan dengan kemampuan anak. Apabila orang tua menuntut terlalu tinggi atau terlalu rendah daripada tuntutan yang diharapkan sehingga anak bosan melakukannya, anak tidak akan mau menaati peraturan, bahkan akan menimbulkan masalah dalam perilaku anak. Peraturan harus diberlakukan terus- menerus, jangan berubah-ubah atau saling berlawanan. Sebagai orang tua, Anda harus memerhatikan adanya kesatuan dalam lingkungan.

  1. Peraturan dalam Rumah Harus Sama

    Ayah dan ibu harus ada kesapakatan dalam menentukan suatu standar moral. Jika tidak, anak-anak dapat menggunakan ayah atau ibu sebagai "Kartu As". Misalnya, ayah menganggap hal itu salah tetapi ibu beranggapan itu benar. Anak sering berkata demikian, "Biar Ibu tidak mengizinkan saya pergi, saya akan tetap pergi! Bukankah Ayah mengizinkan saya pergi?" Lalu sang ayah mengizinkan. Seringnya keadaan ini terjadi akan membuat anak sulit belajar mana yang benar dan yang salah, atau mana yang boleh dan yang tidak boleh. Ayah seharusnya bersikap, "Jika ibumu tidak mengizinkan pergi, seharusnya kau tidak pergi, perkataan ibu sama dengan perkataan ayah!" Bila terjadi pandangan yang berbeda, hendaknya dirundingkan tidak di hadapan anak, apalagi dipertengkarkan di hadapan mereka. Persamaan pandangan dari orang tua akan memudahkan anak untuk belajar taat.

  2. Kebersamaan Antarguru

    Satu kelas sekolah minggu sering diajar oleh beberapa guru. Untuk itu, harus ada kesepakatan dalam menentukan peraturan yang sama. Hanya dalam satu kriteria standar yang samalah anak baru dapat belajar dengan jelas, misalnya waktu berdoa harus dengan hikmat dan hormat, atau ketika hendak bertanya, anak harus mengacungkan tangan lebih dulu. Jangan beri kesempatan kepada anak untuk keuntungan sendiri, lalu merugikan orang lain. Anak harus diberi banyak kesempatan belajar sopan dan menghormati guru, orang dewasa, dan orang lain.

  3. Kebersamaan dalam Rumah Tangga

    Baik di Asia atau Amerika Serikat, banyak anak yang diserahkan kepada orang ketiga, seperti perawat, kakek, nenek, pembantu, bahkan ada yang dititipkan di rumah penitipan. Orang tua harus berhati-hati dengan konsep nilai yang dimiliki oleh orang-orang tersebut. Sebaiknya, orang tua memilih orang yang memiliki konsep nilai yang sama dengan kita. Jangan sampai anak-anak menjadi kacau dalam pendidikan konsep yang berbeda-beda.

  4. Kebersamaan dalam Mendisiplinkan

    Karena suatu situasi yang berbeda, mungkin ada sesuatu yang dirisaukan sehingga timbul ketidakstabilan dalam mendisiplinkan anak. Dalam situasi senang atau lancar, orang tua membiarkan anak melakukan apa pun juga, tetapi dalam situasi yang kacau atau tidak menyenangkan, anak dilarang melakukan segala aktivitasnya. Jika orang tua sering mengalami ketidakstabilan dalam emosi atau selalu berubah-ubah dalam standar yang ditentukan, jiwa anak akan menjadi sangat lemah, mudah kacau, tidak berdaya, ingin melarikan diri, bahkan tidak dapat mempelajari standar moral dan kemauan secara tepat dan mantap.

  5. Kebersatuan Kata dengan Perbuatan

    Orang tua sering tidak selaras dalam apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan, misalnya mengajarkan anak untuk tidak boleh berbohong, tetapi orang tua sendiri tidak menepati janji atau tidak jujur. Melontarkan kata-kata keras untuk menggertak anak, misalnya "Jika kamu tidak menurut, kamu akan dikunci di luar dan tidak boleh tidur di kamar!", "Awas kalau pelajaranmu gagal, kamu tidak boleh ikut piknik dan tinggal di rumah sendirian!", atau "Kalau kamu mencuri lagi, Ayah/Ibu akan mengusir kamu dari rumah!" Apakah orang tua bersungguh-sungguh melakukan hal yang dikatakannya? Perkataan- perkataan tersebut dilontarkan hanya untuk menakut-nakuti anak dan bukan untuk dilakukan. Seringnya perkataan-perkataan itu diucapkan akan menghilangkan kewibawaan orang tua dan anak pun akan menjadi risau.

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Buku: 
Menerobos Dunia Anak
Pengarang: 
Dr. Mary Go Setiawani
Halaman: 
51 - 53
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup
Kota: 
Bandung
Tahun: 
2000

Komentar