Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Memulai Interaksi di Kelas


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Beberapa orang guru menyadari betapa pentingnya menciptakan interaksi yang baik dengan para muridnya pada saat kelas dimulai. Namun mereka tidaklah selalu tahu bagaimana cara melakukannya. Semua penerbit kurikulum Sekolah Minggu yang baik biasanya mencantumkan saran-saran perencanaan memulai sebuah kelas yang efektif. Anda seharusnya mempertimbangkannya dan menyesuaikannya untuk diterapkan di dalam kelas Anda secara efektif. Untuk kemudahan Anda, saran- saran berikut ini menjelaskan beberapa cara pendekatan yang efektif untuk merencanakan introduksi yang menciptakan kontak awal yang baik dengan anak-anak di kelas Anda.

  1. Menyampaikan hal yang memenuhi kebutuhan.

    Sebelumnya, kita mempertimbangkan keuntungannya bila kita menyampaikan sesuatu yang memenuhi kebutuhan seseorang. Murid Anda sadar bahwa mereka memiliki rasa kebutuhan yang harus dicari solusinya. Kita semua menyadari bahwa semua orang memiliki kebutuhan. Namun seringkali, mereka tidak tahu yang manakah masalah terbesar mereka. Oleh sebab itu, seorang guru harus bisa menolong muridnya menyadari dan mengetahui kebutuhan mereka yang sesungguhnya.

    Contohnya, setiap orang perlu mengalami kelahiran baru; Kristus menawarkan keselamatan melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan keselamatan. Seorang guru Sekolah Minggu dapat memainkan peranan penting ini untuk menjelaskan kebutuhan akan keselamatan tersebut dan dengan segera melakukan pembenahan.

    Karena kita semua adalah pribadi yang kompleks, kadang-kadang sangat sulit bagi seorang guru untuk mengetahui secara spesifik kebutuhan murid-muridnya. Namun, semakin baik kita mengenal pribadi mereka, semakin baik kita akan mengerti kebutuhan mereka yang sesungguhnya. Setelah itu, kita dapat membantu murid kita menyadari kebutuhan mereka melalui penyampaian pengajaran di kelas.

  2. Memberi tantangan kepada murid.

    Kita semua dapat melakukan dan belajar lebih banyak dari yang sudah kita dapatkan saat ini. Guru yang bijaksana mencari cara untuk menantang murid melalui kalimat pembukaan mereka. Kadang- kadang hal ini bisa membawa bentuk hasil yang akan diraih atau masalah yang akan dipecahkan. Seringkali, kita ingin melakukan terlalu banyak hal untuk murid, daripada memberikan tantangan dan membiarkan mereka melakukan sesuatu dengan cara mereka.

    Setelah Kristus memberikan perintah mendasar kepada murid-murid- Nya, Ia menyuruh mereka pergi, Ia tahu betapa banyak hal yang harus mereka rentangkan untuk memenuhi tantangan. Pertimbangkan beberapa ujian yang mereka hadapi:

    "Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala." (Matius 10:16) "Mereka akan akan menyerahkan kamu." (ayat 17) "Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku." (ayat 22) "Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain." (ayat 23)

    Namun, Kristus mengetahui bahwa tantangan-tantangan seperti ini penting -- dan murid-murid-Nya bangkit untuk menghadapinya. Mereka siap untuk belajar lebih banyak dan dikirim kepada orang bukan Yahudi. Kita merugikan para murid jika kita gagal menantang mereka mencapai potensi mereka.

  3. Memancing rasa ingin tahu.

    Setiap orang memiliki rasa ingin tahu. Kita dapat memanfaatkan rasa ingin tahu murid-murid kita untuk memulai interaksi yang baik. Untuk merangsang rasa ingin tahu seorang murid, guru yang baik seringkali memulai pelajaran dengan mengajukan sebuah pertanyaan. Teknik lain adalah dengan menyebutkan contoh-contoh atau ilustrasi yang akan membuat pelajar ingin tahu lebih lanjut jawabannya atau pemecahan masalahnya. "Mengapa hal ini bisa berhasil?" "Mengapa seseorang bisa memberikan respon dengan cara seperti itu?" "Mengapa kita bersikap seperti ini atau berespon seperti itu?" Carilah cara untuk membimbing murid pada proses belajar mengajar dengan membagikan ide yang dapat merangsang rasa ingin tahu para murid.

  4. Ciptakan ketegangan atau buatlah sebuah paradok/perdebatan.

    Alkitab berisi banyak konsep yang sepertinya bertentangan satu dengan yang lainnya, atau bertentangan dengan gagasan umum. Mengenalkan pertentangan ini kepada para murid di Sekolah Minggu akan membantu menolong para siswa ke dalam proses belajar. "Siapa yang mempertahankan nyawanya, akan kehilangan nyawanya" atau "Yang pertama akan menjadi yang terakhir", adalah ilustrasi yang nampaknya merupakan gagasan yang bertentangan. Seperti yang kita lihat, mudah sekali untuk menemukan konsep Alkitab yang bertentangan dengan gagasan populer (secara sekuler atau gerejawi). Konflik-konflik ini dapat membantu menciptakan pengantar yang efektif dan merangsang murid dalam kelas. Hal tersebut juga dapat membantu Anda menciptakan komunikasi dengan para murid.

Kesimpulannya, sebuah pembukaan di awal pengajaran ibarat sebuah landasan peluncuran. Jika Anda tidak lepas landas, pelajarannya juga tidak akan ke mana-mana. Di tahun-tahun awal program berjangka kami, Cape Caneveral merupakan gambaran banyak kegagalan. Beberapa, bahkan disebut "Gabungan Kegagalan". Namun, para peneliti kami belajar dari kesalahan-kesalahan itu dan bisa memperbaikinya.

Di masa lalu, kata pembukaan Anda mungkin tidak seperti yang diharapkan. Tetapi, marilah bergerak ke maju dari pengalaman- pengalaman itu dan belajar bagaimana merencanakan kata pengantar yang efektif agar kemudian pelajaran bisa disampaikan dengan baik.(T/Lis)

Kategori Bahan PEPAK: Metode dan Cara Mengajar

Sumber
Judul Buku: 
Make Your Teaching Count!
Pengarang: 
Wesley R. Willis
Halaman: 
94 - 96
Penerbit: 
Victor Books
Kota: 
Illinois
Tahun: 
1986

Komentar