Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Hubungan Orangtua -- Anak


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Kategori Bahan PEPAK: Metode dan Cara Mengajar

  1. Dititik-beratkan pada adanya KOMUNIKASI, yaitu "hubungan timbal balik antara Orangtua dan anak."
    Harus disadari, bahwa adalah UMUM, jika manusia-manusia dengan usia yang berbeda-beda tinggal serumah atau berhubungan satu sama lain, konflik-konflik tidak dapat dihindari. Baru perbedaan usia- usia generasi saja sudah menghasilkan pendirian - pandangan - perhatian dll. yang berbeda-beda.

    Konflik merupakan warisan yang PALING ABADI dari Adam dan Hawa pada umat manusia. Di dunia ini tidak ada hal yang baru, tetapi juga tidak ada yang terselesaikan.


  2. Penghalang-panghalang bagi Komunikasi yang baik dapat berupa:
    1. Tembok-tembok emosi yang tebal, penghalang untuk saling MENGENAL/MENGHARGAI.
    2. Peristiwa-peristiwa yang bertumpuk sedari masih kecil: masing- masing salah faham, perbedaan pandangan/keinginan.
    3. Karena saling mengharap terlalu banyak.
    4. Kecerahan/kesembarangan dari kedua fihak.
    5. Ketidakadaan identifikasi pada kedua fihak.
  3. Kesalahan-kesalahan yang umum adalah:
    1. Orangtua bersikap - berkata - bertindak terlalu keras.
    2. Menuntut/mengharap terlalu banyak, seringkali menyimpang dari pembawaan dan kesanggupan anak.
    3. Masih memperlakukan seperti anak, walaupun sudah dewasa.
    4. Fihak anak tidak suka berterus-terang, kurang terbuka, hingga seolah-olah mengelabuhi orangtuanya, walaupun tidak dalam arti yang jelek.

  4. Orangtua sebaiknya memaklumi, bahwa apa yang mereka pandang sebagai:
    1. Pemberontakan - sebenarnya hanya merupakan ketakutan, kecemasan, kebimbangan.
    2. Keras Kepala - sebenarnya hanya panik yang mendalam, yang dulu mungkin juga pernah menghantui mereka semasa mudanya.
    3. Tidak bertanggung jawab - hanya disebabkan karena mereka tidak pernah mendidik untuk belajar menentukan PILIHAN secara sadar dan seksama. Sebagaimana juga telah dilalaikan oleh orang-orang tua mereka sebelumnya.

  5. IDENTIFIKASI : Untuk mendobrak tembok-tembok penghalang bagi Komunikasi yang baik, kedua fihak -- orangtua dan anak - berusaha mengadakan Identifikasi. Ini berarti, bahwa masing-masing berusaha untuk menempatkan diri pada fihak lain. Lalu berusaha memandang, merasakan, memikirkan persoalan dari sudut fihak lain, bukan dari sudutnya sendiri. Hasilnya akan sangat mentakjubkan!

    Identitas bukanlah gagasan manusia, melainkan PEMIKIRAN ILLAHI.
    Tatkala Tuhan memutuskan untuk memasuki kehidupan manusia dalam WUJUD MANUSIA, yaitu Bayi YESUS, Tuhan telah melakukan IDENTIFIKASI yang SEMPURNA! Tidak ada yang dapat mengatakan, bahwa Tuhan tidak tahu akan hidup dan penderitaan umat manusia. Karena Tuhan sendiri telah hidup dan menderita sebagai manusia. Tuhan telah mengalami: Kepalsuan - fitnah - penindasan - ketidak-adilan, untuk akhirnya dihukum mati di Kayu Salib tanpa dosa.

    Maka sebaiknya kedua fihak BERTINDAK DEWASA. Sama-sama menggunakan KUNCI EMAS dari Identifikasi. Dan berusaha untuk mendobrak penghalang-penghalang bagi saling pengertian - saling pendekatan, dan saling menghargai.


  6. Kita semua mengalami dan mengetahui akan KEBUTUHAN yang aneh dan misteris akan adanya komunikasi sejati antara orangtua dan Anak.

    Kerukunan dan ketentraman rumah tangga orangtua PENTING bagi anak. Kerukunan dan ketentraman rumah tangga Anak PENTING bagi orangtua. Bila anak jauh dari orangtua, karena studi atau pekerjaannya, anak akan merasa hatinya jauh lebih tentram dan mantap, bilaman kabar- kabar dari rumah menyatakan, bahwa semuanya baik dalam rumah tangga orangtuanya. Begitupun sebaliknya, orang tua akan merasa lega dan tentram, bilamana kabar-kabar dari anak menyatakan, bahwa semua ada dalam baik. Dan ini akan BERLANGSUNG TERUS, juga jika anak-anak sudah berkeluarga sendiri. Dan akan berlangsung terus SEMASA HIDUPNYA, Keinginan/harapanan, bahwa semua aman dan damai dalam rumah tangga orangtuanya. Ini bukan berarti Ikatan dengan orangtua (oudersbinding) yang terlalu kuat, karena sifatnya yang UMUM. Hingga kita jadi yakin, bahwa HANYA TUHAN yang dapat menanam perasaan itu dalam hati tiap umatnya.

    Komunikasi yang harmonis antara orangtua - anak diharap akan dapat tercapai, bilamana kedua fihak suka memulai dengan saling meng-identifikasi diri masing-masing. Tentunya tidak akan berhasil dalam waktu pendek. Tetapi sesudah lewat bertahun-tahun, pada waktu usia orangtua sudah lebih lanjut dan anak sudah lebih dewasa dan matang.

    Tetapi kita harus YAKIN, bahwa usaha yang sadar dan terarah akan membawa hasil, karena Tuhan telah menaruh dalam hati umat-umatNya KERINDUAN akan KERUKUKAN antara manusia-manusia yang mempunyai tali kekeluargaan.


  7. Para orangtua berkewajiban untuk membimbing - mendorong - membiayai anak-anaknya. Tetapi KEBEBASAN untuk memilih ada pada anak-anak sendiri. MEMILIH pada bidang ilmu/pekerjaan mana yang paling sesuai dengan bakat dan kesukaannya dimana mereka bersedia untuk mengabdikan hidupnya. Hal ini seringkali dirasakan agak pincang oleh orangtua. Tetapi pada umumnya para orangtua acuh dan mengasihi sekali anak-anaknya. Mereka jauh lebih rela untuk berkorban dan bersusah payah guna kepentingan studi/usaha anak- anaknya, daripada melepaskan mereka dari tanggung jawabnya.

    Menghadapi anak-anak, orangtua harus berhati-hati dan jangan sampai ada anak yang satu mengadudombakan orangtua dengan anak yang lain. Mungkin dalam hubungan dan memberi/membantu anak juga diperlukan kebijakasanaan (De linker hand hoeft niet te weten wat de rechter doet).


  8. Anak-anak sering mengeluh, bahwa orangtuanya sukar dikenal, sukar diajak berbicara. Hal ini tidak benar. Para orangtua adalah manusia biasa, dengan kelainan/kekurangan, yang dapat mengecilkan hati anak- anak, tetapi juga dengan sifat-sifat yang membikin anak-anak sayang pada mereka. Kadang kali mereka sangat sukar dalam pergaulan. Tetapi TIDAK BENAR, bahwa mereka tidak dapat dikenal tidak benar, bahwa mereka tidak dapat diajak berbicara. Sebaiknya anak-anak mengadakan PEMIKIRAN. Dan MENELITI orang tuanya. Apakah yang menyebabkan mereka bersikap/berpandangan seperti sekarang? Bagaimana latar belakang masa muda dan masa lampau mereka? Jika orangtua sangat sukses dan menjadi kaya, ada kemungkinan, bahwa mereka mengharap/menuntut terlampau banyak dari anak-anak. Otomatis mereka berpendapat, bahwa mereka akan jauh lebih maju, andaikan mulai dari apa adanya sekarang. Jika orang tua sangat berbakat, mereka akan mengharap, bahwa sedikitnya anak- anak harus dapat mengimbangi mereka. Jika orangtua sangat menderita baik lahir maupun batin sewaktu masa kecil/mudanya, ada kemungkinan wataknya menjadi keras. Maka yang PENTING adalah, BERUSAHALAH mengidentifikasi mereka!


  9. Para orangtua mempunyai JIWA dan HATI, yang kadang-kadang juga bisa KESEPIAN - gentar - bimbang - gelisah - dan cemas. Anak-anak harus menyadari, bahwa orangtua - jiwa dan hatinya - MEMBUTUHKAN jiwa dan hati anak-anak. Dan akan semakin membutuhkan mereka dalam tahun-tahun yang akan datang, mungkin lebih dari anak-anak membutuhkan mereka.

    Jiwa dan hati mereka akan KESEPIAN tanpa KASIH - Perhatian - dan Pendekatan dari anak-anak. Berilah orangtua jalan/kesempatan untuk masuk dalma kehidupanmu. Bukalah jalan, agar orangtua dapat mengerti anak-anak. Beritahukanlah pada orangtua hal-hal mengenai studi, pekerjaan dan idupmu. Tanyakanlah sekali-kali pandangan/pendapatnya -- walaupun tidak mengikat. Mereka akan merasa dihargai. Mereka akan berkecil hati, bilamana mereka merasa dikucilkan dari hidupmu.


  10. Ada kalanya orangtua memarahi anaknya terlalu keras, dengan sikap kata-kata yang dirasakan sebagai sangat menyinggung dan tidak seimbang dengan persoalannya. Atau terlalu banyak melarang/mencela, hingga anak merasa diperlakukan seperti anak kecil, dan tidak diijinkan memiliki kebebasan pribadi. Atau terlalu menggariskan/mencampuri cara hidup dan bekerja anak, hingga anak merasa tertekan. Tetapi anak hendaknya janganlah lalu Membantah dan balas/ikut marah, bahkan menuduh, bahkan orang tuanya sendiri dimasa mudanya juga tidak selalu patuh pada orang tuanya. Mendendam, iba pada diri sendiri, dan mendambakan saatnya keluar dari lingkungan dan pengaruh orangtua. Menghakimi/mengadili orangtuanya mengenai yang dipandang salah.

    Memang benar, semua anak menginginkan orangtuanya yang TERBAIK DAN SEMPURNA. Tetapi kenyataannya memang tidak ada manusia yang sempurna. Kesadaran akan hal ini sudah merupakan satu langkah maju kearah kedewasaan.

    Ambillah jarak dari rasa-rasa ketidakpuasan itu, dan pandanglah orangtua dengan sedikit KASIH DAN PENGERTIAN ILLAHI. Tidak mudah untuk menerima orangtua kita, sebagaimana adanya mereka. Maka dapat menerima ini, juga berarti satu langkah maju lagi kearah kedewasaan jiwa kita. Dengan kunci emas dari identifikasi, kita akan mengerti dan mengasihi orangtua, SEBAGAIMANA ADANYA MEREKA. Tidak seperti yang diam-diam kita ingin dan harapkan. Perlu diulang-ulang, bahwa mengerti tidak berarti membenarkan. Tetapi dengan timbul/tumbuhnya pengertian akan lebih mudah untuk memaafkan segala kekurangan/kelemahan. Dan menjaga, agar tidak ada yang membekas dalam hati kita.


  11. Apabila anak-anak dalam usia belasan beralih menjadi puluhan tahun, tidak MULAI TUMBUH dalam Kasih dan Pengertian terhadap orangtuanya, maka anak-anak akan kehilangan hubungan sejati dengan anak-anaknya sendiri kelak, sebagaimana orangtua kehilangan hubungan sejati dengan anak-anak sekarang ini.

    Apakah anak-anak tidak menghendaki Kasih dan Pengertian dari anak- anaknya sendiri kelak? Apakah anak-anak LAYAK mendapatkan itu, jika sekarang anak-anak sendiri TIDAK BERUSAHA untuk menyesuaikan diri dengan orangtua?

    orangtua merawat/membesarkan anak-anaknya dengan KASIH DAN PENGORBANAN materi - tenaga - waktu - pikiran yang seolah-olah tidak terbatas. Maka kiranya tidak lebih dari layak, jika dalam usia orangtua yang lanjut. Anak suka memikirkan - mendampingi - mengasihi dan memperhatikan, dan berusaha MENGISI kesunyian/kesepian dalam hati orangtua. Tidak kurang orang-orang yang sehari-hari selalu sibuk dan dikerumuni banyak orang, tetapi HATINYA KESEPIAN.

    Adanya KOMUNIKASI (hubungan timbal-balik) yang SEJATI antara orang tua dan anak, tetapi BETUL-BETUL KOMUNIKASI JIWA, dan bukan hanya komunikasi pergaulan biasa dengan segala basa-basi-nya, akan MENGISI jiwa kedua fihak dengan rasa PUAS - KEHANGATAN - dan KEDAMAIAN - yang tak terhingga.

Sala, 6 September 1973
Pkl. 17.00 WIB

Komentar