Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Berbagai Jenis Komunikasi


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Kategori Bahan PEPAK: Metode dan Cara Mengajar

Komunikasi dalam mendidik anak-anak harus berdimensi banyak dan kaya akan struktur. Ia harus mencakup dorongan, teguran, kecaman, permohonan mendesak, pemberian petunjuk, peringatan, pengajaran, dan doa. Ini semua harus menjadi bagian dari interaksi Saudara dengan anak-anak Saudara.

Paulus menasihati Saudara dalam 1Tesalonika 5 agar berhati-hati dengan ucapan Saudara supaya sesuai dengan kebutuhan pada saat itu: "... tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang." (1Tesalonika 5:14).

Maksud Paulus, ialah bahwa situasi yang berbeda akan menuntut bentuk-bentuk ucapan atau sapaan yang berbeda. Saudara melakukan kesalahan besar jika tidak dapat membedakan bentuk komunikasi apa yang tepat pada saat atau situasi tersebut.

Saya teringat kesalahan saya ketika mencela salah satu anak saya dengan pedasnya karena dia kelihatan tidak rapi. Dia berumur 7 tahun atau 8 tahun. Dalam pandangan saya dia kelihatan selalu kusut. Saya tidak salah untuk berbicara dengan dia mengenai penampilannya, tetapi saya salah karena mencela dia ketika dia sebenarnya memerlukan petunjuk. Saat itu dia tidak melawan. Sebenarnya dia tidak melakukan sesuatu yang pantas menerima celaan. Dia hanya perlu dinasehati secara sabar. Hari-hari berikutnya, saya sadar bahwa saya telah melukai perasaannya, sebab itu saya harus meminta maaf atas celaan saya yang tidak sepantasnya itu.

Berikut ini adalah berbagai jenis komunikasi yang dapat Anda gunakan dalam mendidik dan mengajar:

1. Dorongan

Anak-anak membutuhkan komunikasi yang diperlukan untuk membangkitkan semangat dan mengisi hati mereka dengan harapan dan keberanian. Suatu hari saya berbicara dengan pemuda yang baru saja melampiaskan kemarahannya kepada teman-teman sekelasnya. Setelah reda, dia dapat berbicara secara rasional. "Tidak ada gunanya," katanya. "Aku tidak boleh main. Setiap kali aku bermain, ada saja orang yang membuat aku marah dan ini setiap kali terjadi." Ini jelas bukan waktunya untuk mencela. Pemuda ini tahu bahwa dia salah. Dia menyadari ketidakmampuannya mengubah sifat-sifat dasar kepribadiannya. Pemuda ini perlu dimotivasi bahwa Kristus datang karena kita adalah orang-orang berdosa dan papa. Celaan atau bahkan pengajaran, pasti tidak tepat untuk situasi tersebut.

Anak-anak mengetahui pedihnya menghadapi kegagalan. Mereka seperti Saudara, kadang-kadang mendapati segala sesuatu kelihatan tidak ada harapan.

Saudara dapat membantu mereka menilai alasan-alasan mengapa mereka kecewa. Saudara perlu membantu mereka memahami janji-janji Allah. Saudara dapat mendorong mereka menemukan keberanian, harapan dan semangat dari Allah yang setia menghampiri orang- orang yang patah hati serta penuh penyesalan.

2. Teguran

Kadang-kadang seorang anak perlu dibimbing menyesuaikan diri dengan norma-norma. Teguran memperbaiki sesuatu yang salah. Teguran memberikan wawasan atau pengetahuan mengenai apa yang salah dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki masalah tersebut. Teguran membantu anak-anak Saudara memahami ketetapan Allah dan mengajar mereka untuk menilai perilaku mereka dengan ketetapan itu. Ayat-ayat dari 2Timotius 3:16-17 mengingatkan kita bahwa teguran itu adalah salah satu fungsi dari Firman Allah.

Istri saya, Margy, pada suatu malam bercakap-cakap dengan putri kami. Percakapan itu didorong oleh adanya suatu kejadian, sampai akhirnya kejadian yang dipercakapkan itu menjadi hal yang kurang penting, karena istri saya menemukan sesuatu yang tampak kurang beres dalam putri kami. Pada mulanya dalam percakapan itu putri kami berperan sebagai seorang pakar yang sedang menegur. Terhadap segala sesuatu yang benar dia mengangguk dan memberi komentar. Namun istri saya menyadari bahwa hati putri kami tidak sama dengan anggukan kepalanya. Istri saya menguji kecurigaannya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menyelidiki. Istri saya segera menyadari bahwa putri kami perlu mendapat teguran. Dia menegur tanggapan putri kami berdasarkan Amsal 9 dan membedakan antara seorang pencemooh dan orang bijak ketika mereka menerima teguran. Dia memberikan teguran dan membantu putri kami untuk memahami ketetapan Allah serta responnya terhadap teguran berdasarkan ketetapan itu. Putri kami akhirnya menyadari kesalahannya dan ia menangis. Dan untuk seterusnya percakapan mereka berlanjut dengan secara efektif dan produktif.

3. Celaan (Kecaman atau Hardikan)

Suatu celaan atau kecaman itu menghardik perilaku. Kadang-kadang anak-anak harus mengalami perasaan seperti Saudara akan adanya bahaya, kejutan dan kepedihan atas perkataan dan perbuatannya. Contoh, kita selalu mengajar anak-anak kita bahwa perlu ada batas- batas tertentu mengenai percakapan atau obrolan bebas. Kita tidak akan pernah mengatakan kepada orang-orang bahwa kita membenci mereka, atau mengharapkan mereka mati atau mendapat celaka. Pernyataan-pernyataan seperti itu pasti akan mengundang kecaman yang keras. Kita pasti mengatakan dengan isyarat yang jelas mengenai bahaya dan kejengkelan, "Kamu berbicara seperti itu salah. Saya tidak mau mendengar kamu berbicara seperti itu lagi." (Ini tentu diikuti dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain, seperti nasehat, dorongan atau motivasi dan doa).

4. Permohonan

Ini adalah komunikasi yang sungguh-sungguh dan mendalam. Hal ini melibatkan permohonan, pencarian, desakan, dan bahkan upaya untuk meminta-minta. Tetapi, ini bukan meminta-minta seperti seorang pengemis. Melainkan permohonan dari seorang ayah atau ibu, yang karena memahami anaknya dan jalan-jalan Allah serta kebutuhan mendesak saat itu, maka dia mau menerima permohonan yang sungguh- sungguh agar anaknya bertindak dengan bijaksana dan iman. Ini adalah jenis komunukasi khusus yang hanya digunakan dalam kasus- kasus sangat penting.

Kita mendapat pengetahuan tentang permohonan dalam perikop Amsal 23 yang dikutip di atas. Orang tentu tidak tahan mendengar permohonan di balik kata-kata dari Amsal 23:26, "Hai anakku, berikanlah hatimu kepadaku, ...."

Saya telah menggunakan jenis komunikasi ini ketika berbicara kepada putra-putri saya mengenai pentingnya menghindari dosa-dosa seks seperti pornografi. Pada sejumlah kesempatan saya pernah memohon dengan sungguh-sungguh kepada mereka tentang bahaya yang akan mereka hadapi bila mengundang kenajisan masuk dalam diri mereka. Saya telah berbicara tentang bagaimana dosa seks mencemarkan citra Allah dan tidak dapat menjaga kekudusan dan kemuliaan nama-Nya. Saya telah memperingatkan, bahwa kenikmatan yang hanya sekejap didorong oleh nafsu birahi khusus, harus dibayar dengan mahal dan akan membawa kecemaran. Saya memadukan permohonan saya dengan dorongan atau motivasi bahwa sukacita dan indahnya seks yang alkitabiah hanya dapat dinikmati dalam pernikahan, dan tidak dapat dibayangkan. (Saudara akan menemukan dasar untuk pembahasan ini dalam Amsal 5-7). Jelas bahwa saya tidak melakukan percakapan seperti ini setiap kali, tetapi permohonan yang serius secara berkala mengenai soal-soal penting seperti ini membuahkan hasil yang baik.

5. Pemberian Petunjuk

Pemberian petunjuk adalah satu proses memberikan pelajaran, aturan, atau informasi yang akan membantu anak-anak Saudara memahami dunia mereka. Sebagai orangtua, Saudara sedang berhadapan dengan orang- orang muda yang mempunyai kesenjangan besar dalam hal pengetahuan mereka tentang kehidupan. Mereka membutuhkan informasi atau pengetahuan tentang diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka perlu memahami alam dari kenyataan rohani dan prinsip-prinsip mengenai Kerajaan Allah.

Anak-anak Saudara memerlukan kerangka kerja di mana mereka dapat memahami kehidupan. Amsal-amsal dari Raja Salomo adalah sumber yang kaya akan informasi tentang kehidupan. Anak-anak yang mulai mengerti penokohan (karakterisasi) dari Kitab Amsal mengenai orang yang bodoh atau bebal, pemalas, orang bijak, pencemooh dan sebagainya, akan mengembangkan kemampuan untuk membedakan hal-hal dalam hidup ini.

Saya kagum melihat anak-anak saya berinteraksi menghadapi pengalaman mereka di SMU dengan kedalaman wawasan serta persepsi yang tidak pernah saya ketahui semasa saya duduk di SMU. Mereka telah mampu menilai respon-respon mereka menurut cara-cara yang belum dapat saya lakukan sampai saya berusia pertengahan dua puluhan. Ingin tahu sebabnya? Nasihat-nasihat menurut jalan Allah telah memberi mereka hikmat yang alkitabiah. Inilah yang sedang dibicarakan dalam Mazmur 119.

6. Peringatan

Kehidupan dari anak-anak Saudara penuh dengan bahaya. Peringatan membuat kita berjaga-jaga terhadap bahaya yang mungkin terjadi. Peringatan adalah perkataan yang menunjukkan kepeduliaan, karena ini sama dengan menempatkan rambu-rambu tanda bahaya yang memberi tahu para pengendara mobil tentang adanya jembatan yang sudah tidak dapat dilewati. Peringatan dengan tidak henti-hentinya menyiagakan kita terhadap bahaya, kendatipun masih ada waktu untuk bisa luput tanpa cidera. orangtua yang waspada bisa memampukan anaknya melepaskan diri dari bahaya dan sekaligus belajar melalui proses itu. Peringatan bersifat melindungi.

Amsal-amsal berikut berisi peringatan bagi orang bijak dan cerdik:

Amsal 12:24 "... kemalasan mengakibatkan kerja paksa."
Amsal 13:18 "Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, ...."
Amsal 14:23 "... kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja."
Amsal 15:1 "... perkataan yang pedas membangkitkan marah."
Amsal 16:18 "Kecongkakan mendahului kehancuran, ...."
Amsal 17:19 "... siapa memewahkan pintunya mencari kehancuran."
Amsal 19:15 "... orang yang lamban akan menderita lapar."

Salah satu cara yang paling berpengaruh di mana kita dapat memperingatkan anak-anak kita ialah mengisi mereka dengan peringatan-peringatan dari Alkitab.

7. Pengajaran

Pengajaran adalah proses menanamkan pengetahuan. Pengajaran menyebabkan orang mengetahui sesuatu. Kadang-kadang pengajaran terjadi sebelum diperlukan. Pengajaran sering kali ada pengaruh dengan yang sangat kuat, setelah terjadi suatu kegagalan atau masalah. Sebagai orangtua yang saleh, Saudara harus banyak menanamkan pengetahuan. Dengan mengambil pengetahuan dari Alkitab, Saudara bisa mengajar anak Saudara untuk memahami dirinya sendiri, orang lain, kehidupan, penyataan Allah dan dunia ini. Saudara harus secara aktif menanamkan pengetahuan kepada anak-anak Saudara.

8. Doa

Kendati pun doa bukan komunikasi dengan anak, melainkan dengan Allah, namun bagaimanapun juga hal itu merupakan satu unsur penting dari komunikasi antara orangtua dengan anak. Wawasan kita yang paling bisa tertanam ke dalam anak-anak kita akan sering muncul ketika mereka berdoa. Memahami apa yang mereka doakan dan bagaimana mereka berdoa, sering merupakan sebuah jendela ke dalam jiwa mereka. Melalui cara yang sama, doa orangtua memberikan petunjuk dan wawasan bagi anak tersebut. Saya tidak memberikan kesan bahwa Saudara berdoa untuk kemudian dipakai anak-anak, tetapi Saudara mengakui bahwa dengan mendengar doa Saudara akan mengkomunikasikan iman Saudara kepada Allah dan kepada anak Saudara.

Bahan diringkas dan diedit dari sumber:
Judul Buku : Shepherding A Child"s Heart (Menggembalakan Anak Anda)
Pengarang : Tedd Tripp
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1995
Halaman : 134 - 143

Komentar