Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Damai dan Sukacita


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Apakah damai dan sukacita sudah ada di rumah Anda? Biasanya damai dan sukacita ada di rumah kita pada minggu pertama masa Natal -- pada saat Anda menerima kartu Natal yang pertama. Kita semua tahu bahwa damai dan sukacita merupakan ekspresi yang biasa diungkapkan oleh orang-orang pada saat Natal. Apakah Anda pernah memerhatikan bahwa kartu Natal cenderung menekankan tema-tema "damai" dan "sukacita"? Perhatikan kartu-kartu Natal yang Anda terima tahun ini. Perhatikan banyaknya kata "damai", "sukacita", ataupun kedua-duanya. Tidak hanya kartu Natal saja, lagu-lagu Natal juga banyak menggunakan kata-kata tersebut.

Damai dan sukacita sebagai tema utama dalam tradisi Natal bukanlah suatu kebetulan. Dalam Lukas 1, Maria yang sedang mengandung Yesus, mengunjungi sepupunya, Elizabet, yang juga sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Pada saat Maria memberi salam, Elizabet berseru dengan suara nyaring, "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan." Sesaat kemudian, Maria sendiri berseru, "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juru Selamatku." Dalam Lukas 2, di malam ketika Yesus lahir, seorang malaikat mendatangi para gembala dan mengabarkan, "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Kemudian, setelah melihat bayi itu, para gembala kembali lagi menggembalakan domba-dombanya sambil memuji dan memuliakan Allah.

Penekanan Alkitabiah pada sukacita Natal ini juga berlaku pada damai Natal. Perhatikan nubuatan Natal di Yesaya 9:6-7, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; ... dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." Ada juga nubuat Zakharia di Lukas 1:79 bahwa Yesus akan lahir "untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera." Dalam nubuat selanjutnya, para malaikat mengabarkan kepada para gembala di Lukas 2, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." Damai dan sukacita. Kedua kata ini berulang kali ditekankan dalam nubuatan Natal di dalam Alkitab dan cerita-cerita Natal mengatakan sesuatu. Damai dan sukacita ada di dalam hati dalam wujud Yesus. Yesus lahir untuk membawa damai dan sukacita. Namun, dalam hal ini, sebaiknya kita jujur. Seperti yang dapat dilihat dan dirayakan oleh kebanyakan orang, apakah Natal benar-benar dapat digambarkan sebagai saat untuk damai dan sukacita? Perhatikan diri Anda sendiri dan orang-orang yang Anda kenal. Apakah perayaan Natal yang sudah pernah kita lalui dipenuhi dengan rasa damai dan sukacita? Saya tidak ingin menyamaratakan semua orang. Mungkin pengalaman Anda selama masa Natal melibatkan rasa yang indah dalam damai dan sukacita Allah. Mungkin Anda tahu ada orang-orang yang diperbaharui dalam damai dan sukacita setiap kali Natal datang. Pengamatan saya akan menjadi pengecualian, bukan aturan. Saya sebenarnya mendengar orang-orang berbicara tentang ketakutan mereka pada liburan Natal. Saya mendengar mereka mengatakan bahwa mereka sudah tidak sabar lagi menunggu Natal berakhir. Orang-orang tidak takut terhadap damai yang kekal. Mereka tidak dengan cemas menunggu akhir yang memberikan sukacita. Namun, bagi beberapa orang, pengalaman Natal bukanlah salah satu dari damai, tetapi kegaduhan, aktivitas, kekacauan, perselisihan, tekanan, frustasi, dan tidak ada waktu untuk beristirahat. Tidak heran beberapa orang menyambut Natal dengan ketakutan.

Bagi beberapa orang lainnya lagi, Natal bukanlah saat untuk bersukacita, tetapi lebih merupakan rasa kekosongan, ketidakgembiraan, kekecewaan yang samar-samar, bahkan mungkin keputusasaan dan depresi. Tidak heran jika ada orang yang tidak sabar menunggu Natal berakhir. Maaf jika ini terkesan negatif, namun ini merupakan gambaran dari pengalaman Natal yang sering dialami oleh masyarakat di sekitar kita atau bahkan kita sendiri.

Tanpa Yesus tidak ada damai. Tanpa Yesus tidak ada sukacita. Ini sudah bukan hal baru atau perkembangan baru. Dua kalimat tersebut ada selama bertahun-tahun dan begitu pula dengan Anda. Namun, mungkin ada kata-kata yang lebih tepat lagi. Mungkin kata-kata ini bentuk singkat dari suatu nasihat. Ketidakhadiran Yesus membuat kualitas yang terus dan tetap ada pada damai dan sukacita Allah menjadi suatu kemustahilan. Orang-orang yang tidak mengenal Yesus mungkin saja mengalami masa-masa di mana damai atau sukacita dilalui begitu saja, bahkan mungkin pada saat-saat yang penuh damai dan sukacita. Namun, kualitas damai dan sukacita Allah kekal dan begitu dalam; apakah damai dan sukacita yang ada dan akan terus menerus ada meskipun dalam keadaan yang buruk sekalipun? Tidak, tanpa Yesus, damai dan sukacita itu tidak akan ditemukan. Marilah kita luruskan hal ini dengan mengambil kesimpulan berdasarkan logika. Jika kita membuat urutan tingkat, pada saat Natal tiba Yesus kita singkirkan, kita tempatkan di luar, kita remehkan, abaikan, lupakan atau kita tempatkan di tempat yang tidak seharusnya. Itulah sebabnya kita tidak merasakan damai dan sukacita yang Ia bawa melalui inkarnasi-Nya. Itu semua terjadi setiap saat, tidak hanya pada saat Natal saja.

Selanjutnya, belilah hadiah yang banyak untuk semua orang dan saudara-saudara mereka. Namun, jika hadiah-hadiah itu merupakan hal yang penting bagi Anda, bukannya Yesus yang Anda utamakan, jangan berharap Anda akan mengalami damai dan sukacita Allah yang melimpah. Pasanglah lampu-lampu yang berwarna-warni, pohon Natal, hiasan-hiasan Santa, atau menonton film-film yang bertemakan Natal. Namun, jika kegiatan-kegiatan seperti itu yang menjadi fokus Anda selama Natal, bukan Yesus yang menjadi fokus Anda, jangan terkejut jika Anda bertanya kepada diri Anda sendiri, "Apakah ada yang lainnya?" Silakan memanggang roti dan daging. Silakan mengajak keluarga Anda makan sepuasnya, mengobrol, tertawa, dan melakukan tradisi Natal Anda. Namun, jika keluarga dan makanan dan tradisi liburan menjadi fokus utama dari Natal Anda, bukan Yesus, jangan terkejut jika Anda tidak merasakan damai dan sukacita dari hal-hal ini. Jadi, jika ada hal-hal lain selain Yesus yang merupakan karunia Allah yang luar biasa yang menjadi perhatian utama dari Natal Anda tahun ini, jangan heran jika Natal Anda menjadi begitu kosong dan tidak memuaskan.

Mengenal Yesus berarti mengenal damai. Mengenal Yesus berarti mengenal sukacita. Beberapa dari Anda sudah menunggu datangnya Natal. Apakah menurut Anda ini merupakan kejadian yang kebetulan jika di setiap tempat Alkitab menghubungkan damai atau sukacita dengan kegiatan-kegiatan Natal. Apakah Alkitab menghubungkan damai atau sukacita kepada Yesus? Yesus adalah Natal! Beberapa di antara Anda yang mengetahui bahwa masa Natal yang kita mulai begitu antusias dan dengan harapan kita akhiri dengan kekecewaan dan tidak ada rasa kepenuhan? Itu semua dapat terjadi jika Yesus tidak menjadi pusat Natal Anda.

Tahun ini, buatlah keputusan antara diri Anda dan Allah bahwa Natal akan Anda fokuskan pada Yesus -- apa pun bentuknya, di mana pun, dan buatlah itu menjadi kenyataan.

Dalam Yohanes 14:27, Yesus berkata, "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu." Sesaat kemudian, dalam Yohanes 15:11, Yesus kemudian menyatakan maksud-Nya, "Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." Kehidupan Yesus dimulai dengan pernyataan damai dan sukacita. Bahkan sesaat sebelum penangkapan yang diakhiri dengan penyaliban, pernyataan damai dan sukacita masih tetap diucapkan oleh Yesus. Yesus dilahirkan di dunia ini, Dia hidup di antara kita, Dia melayani kita, Dia menderita dan mati untuk kita, Dia bangkit dan kembali kepada Bapa -- semuanya ini kita tahu, juga hal-hal lainnya, damai dan sukacita Allah yang sejati. Jika Anda belum menggambarkannya, Anda akan segera menggambarkannya. Damai dan sukacita Natal tidak akan ada dalam kesenangan yang muncul pada saat liburan. Damai dan sukacita Natal hanya ada dalam Yesus Kristus saja. (t/Ratri)

Kategori Bahan PEPAK: Perayaan Hari Raya Kristen

Sumber
Judul Buku: 
Hope Christian Church
Pengarang: 
Pastor Trent Johnson
Bab: 
Peace and Joy

Komentar