Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Mengajar Anak Mengasihi Temannya


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Hubungan antara anak-anak diperlukan anak yang sebaya untuk mengembangkan sikap mengasihi dan ketrampilan untuk menjalin hubungan antarpribadi. Meskipun anak-anak kecil amat tertarik pada anak-anak kecil lainnya, namun mereka tidak selalu dapat dengan mudah mengembangkan persahabatan. Seringkali, anak-anak lain dipandang sebagai ancaman yang berbahaya bagi segala sesuatu yang menjadi kekuasaannya.

Yesus dengan jelas menyatakan bahwa sikap mengasihi orang lain adalah batu penjuru bagi iman Kristen. "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Matius 22:39) merupakan perintah Allah terbesar kedua. "Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi" (Yohanes 13:34). Demikian ajaran Yesus kepada murid-murid-Nya.

Seorang anak sanggup mengasihi dengan lebih dulu menerima kasih dan belajar berinteraksi secara positif dengan orang lain. Kasih tidak pernah dialami secara abstrak atau melalui jarak jauh. Tetapi selalu merupakan suatu pengalaman yang bersifat pribadi dan akrab. Anak yang sedang bertumbuh membutuhkan pondasi interaksi yang positif dengan anak lain sebagai dasar bagi pengungkapan kasih dalam tindakan dan sikapnya. Sekolah Minggu yang membicarakan dan menyanyikan lagu-lagu tentang saling mengasihi dan bersikap baik terhadap teman-teman, tetapi hanya memberikan sedikit kesempatan untuk berbicara satu sama lain atau bahkan tidak sama sekali, merupakan suatu kontradiksi. Dan hal ini kerap terjadi.

Ketika anak mengalami saat senang dan susah, memberi dan menerima pada waktu bermain dengan teman-temannya, sebenarnya ia sedang belajar hal-hal yang paling penting dalam hidupnya. Orang dewasa yang peka akan hal ini dapat menolong anak dalam proses ini dengan menyediakan perlengkapan yang memadai, ruangan, dan pengarahan yang cukup agar setiap anak berada dalam keadaan aman dan dapat terlibat di dalamnya.

Bagi anak yang merasa belum cukup aman untuk berbagi mainan, menyediakan mainan yang sama dapat meredakan perasaan tidak pasti. Melibatkan anak dalam suatu permainan juga dapat menolong meletakkan dasar untuk belajar berbagi dalam suasana yang menyenangkan.

  1. Berbagai variasi "cilukba," yang merupakan permainan favorit anak usia satu tahun, dapat menolong anak kecil untuk tetap dapat menikmati suatu mainan tertentu, meskipun mainan itu bukan miliknya. Sembunyikan sebuah mainan kegemarannya dari pandangannya (misalnya di bawah selembar handuk). Tunggulah sesaat, kemudian angkat handuk itu. Permintaannya untuk mengulang permainan ini menunjukkan ia belajar bahwa "menyerahkan" mainannya kadang-kadang dapat lebih menyenangkan daripada memeganginya sendiri.

  2. Menggelindingkan sebuah bola bolak-balik dengan anak usia dua tahun adalah cara lain untuk mengembangkan perasaan yang baik dalam hal berbagi. Kesenangan yang diperoleh dengan menggelindingkan dan mengantisipasi kembalinya bola itu lebih menyenangkan daripada hanya memegangi bola itu. Dengan mengikutsertakan anak lain dalam permainan, kegembiraan si anak akan semakin bertambah. "Jon dan Bobby adalah teman-teman yang baik. Saya mengucap syukur kepada Allah atas teman-teman baik yang Allah berikan."

  3. Anak usia tiga tahun senang dengan permainan "petak umpet," sejauh tempat-tempat persembunyiaannya cukup jelas terlihat oleh mereka. Kegembiraannya terletak pada saat ia menemukan orang yang dicari, bukan pada proses pencarian itu sendiri. Manfaat permainan petak umpet ini akan terasa jika dimainkan paling sedikit oleh dua orang anak.

  4. Aktivitas apa pun yang melibatkan pernainan yang saling bergantian, menolong anak membangun perasaan positif terhadap anak yang lain.

Bermain menyusun bangunan dan rumah dengan balok-balok kayu adalah aktivitas yang mengasyikkan bagi anak-anak usia empat atau lima tahun. Tentu saja konflik akan muncul, tetapi keinginan yang kuat untuk memiliki teman bermain membuat anak-anak pada umumnya berusaha keras untuk mengatasi masalah. Dan pengalaman belajar yang amat berharga akan mereka peroleh. Dorongan orang dewasa atas perilaku yang diinginkan menambah kemungkinan untuk diulanginya lagi. Beberapa peraturan akan menolong meminimalkan masalah yang mungkin timbul:

  1. "Kamu dapat membongkar bangunanmu sendiri, tetapi hanya Angela yang dapat membongkar menaranya."

  2. "Kamu dapat membuat bangunan yang sama tingginya dengan pundak saya."

  3. "Susun balok ini di sisi garis ini (sebuah isolasi ditempelkan di lantai di depan balok-balok). Ini membuat anak-anak lain bisa mendapat cukup tempat untuk mereka pakai bermain dengan balok- balok yang lain."

Beberapa anak memerlukan pertolongan khusus mengenai bagaimana bermain dengan anak lain. Amat sulit untuk menyatakan kasih sayang jika anak itu tidak mampu berkomunikasi. Terkadang di dalam kelas atau tempat bermain yang ramai dengan banyak aktivitas, para guru kurang memperhatikan bahwa ada beberapa anak yang selalu bermain seorang diri, bahkan meskipun dikelilingi oleh anak-anak lain. terkadang bermain seorang diri dapat memuaskan anak. Namun, bila hal itu terjadi karena si anak kurang mampu berhubungan dengan orang lain, dan bukannya karena ia sendiri memilih untuk bermain sendiri, hal itu akan sangat menurunkan harga diri si anak.

Satu pendekatan untuk menolong anak yang bermain seorang diri adalah mengadakan aktivitas yang membutuhkan kerja sama. Bermain papan jungkit, membangun istana pasir, mendirikan bangunan dengan balok- balok kayu, dan permainan air merupakan aktivitas yang lebih menyenangkan bila dimainkan oleh dua orang atau lebih. Nyatakan perasaan senang itu dengan kata-kata. "David, kamu dan Rosie bermain bersama dengan baik. Kalian merupakan teman yang baik. Alkitab berkata, Kasihilah satu sama lain." Namun, beberapa anak memilih untuk menghindari kegiatan ini daripada menghadapi kemungkinan gagal dalam berhubungan dengan orang lain.

Situasi ini seringkali dapat ditolong dengan memberikan aktivitas yang menarik bagi anak yang senang menyendiri dengan harapan menarik anak-anak lain untuk berinteraksi di dalamnya. Seorang guru menawarkan kesempatan untuk mengecat alat bermain kepada seorang anak yang memiliki kesukaran berhubungan dengan orang lain. Anak itu menanggapinya dengan antusias. Saat ia mulai bekerja, guru itu berkata, "Beberapa anak lain akan datang dan berkata mereka ingin mengecat juga. Bagaimana menurut kamu?" Ia tidak menjawab.

Ibu guru kemudian mengajukan beberapa respon yang memungkinkan ia memberi jawaban "Ya" (yang tadinya mau menjawab "Tidak"). Melalui usulan yang dikemukakan ibu guru, si anak dibantu untuk mendapatkan gambaran bagaimana anak lain akan memberi reaksi. Kemudian guru perlahan-lahan mulai menjauh dan memperhatikan saat anak-anak lain mulai mendekati anak itu. Keyakinan yang timbul karena menjadi pusat perhatian, menolongnya memulai beberapa percakapan pendek. Ia juga menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak-anak lain.

Perhatikan bahwa seorang guru tidak hanya mengatur suatu aktivitas, sehingga anak yang kesepian itu akan menjadi pusat perhatian, tetapi juga memberi gagasan percakapan secara khusus yang dapat membantu anak tersebut berkomunikasi dengan anak lain. Berdiam diri atau undur dari orang lain merupakan hal yang umum terjadi pada anak-anak ataupun orang dewasa, hanya karena mereka tidak memiliki kata-kata yang tepat yang dapat dipakai untuk berinteraksi dengan orang lain.

Hindari sikap atau tindakan membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain atau memupuk rasa kompetisi antara anak-anak kecil. Sebaliknya, anak-anak dapat dibantu dengan belajar dari apa yang dilakukan anak lain. Seringkali seorang anak menahan diri untuk tidak takut dalam suatu permainan baru sampai ia mengamati anak-anak lain melakukannya. Kemudian anak itu mungkin akan mencobanya. Memuji anak di depan anak-anak lain sangatlah menolong. Namun harus diperhatikan dengan cermat untuk memastikan bahwa setiap anak memerlukan pujian yang dibutuhkannya. Biasanya anak yang paling tidak mampu yang paling membutuhkan pengakuan atau penghargaan, tetapi seringkali justru yang paling sedikit menerimanya.

Pernyataan-pernyataan di bawah ini memberikan pengakuan kepada anak- anak. Semua ini membuat anak yang lain menaruh perhatian atas perilaku yang diinginkan, tetapi tidak membuat anak-anak lain merasa kurang berharga.

  1. "Carlos sudah siap mendengarkan cerita. Ia duduk tenang di atas karpet dengan tangan di pangkuannya. Andrea juga sudah siap, begitu pula David."

  2. "Saya ingin kalian mengangkat lukisan jari kalian di dinding bersama lukisan-lukisan lainnya, agar setiap orang dapat melihat karya kalian yang berbeda-beda."

  3. "Setiap orang yang mengenakan sesuatu berwarna hijau mohon berdiri dengan tenang dan berjingkat menuju pintu."

  4. "Jika kamu tahu jawaban pertanyaan Ibu, angkat tanganmu di atas kepala. Bagus! Rachel tahu. Hillary tahu. Daniel juga mengangkat tangannya. Marvin, coba katakan jawabanmu." (Hindari kebiasaan hanya memanggil anak yang pertama kali mengangkat tangan. Percakapan di atas membantu banyak anak merasa diteguhkan perilakunya, dan memungkinkan guru memilih anak yang akan menyampaikan jawaban dengan suara keras.)

  5. "Jeff melakukan yang diperintahkan Alkitab. Alkitab berkata untuk membagikan apa yang kamu miliki, dan Jeff memberikan sebagian malamnya kepada Amy."

  6. "Saya sedang berpikir tentang seseorang di kelas kita yang pagi ini (memakai pita di rambutnya, mengenakan kacamata seperti saya, memakai banyak cat merah pada lukisannya, dan sebagainya)." Kemudian mintalah anak-anak lain untuk memberi petunjuk kira-kira siapa orang itu.

Anak-anak dapat lebih menyadari kehadiran orang lain sebagai individu bila mendengar nama anak-anak lain disebut, seperti juga namanya sendiri. Misalnya, doronglah anak-anak untuk membuat gambar yang akan dikirimkan kepada teman-teman mereka yang tidak masuk pada hari itu. "Kevin akan sangat senang memperoleh gambar ini dari teman-temannya. Allah merencanakan agar kita mempunyai teman- teman."

Seorang guru yang giat dalam mengajar membuat buku kecil bagi anak- anak asuhannya. Pada halaman depan buku itu ditulisnya "Teman- temanku." Setiap anak didorong untuk meminta teman-temannya melakukan sesuatu pada salah satu halaman di dalam buku itu, seperti menuliskan nama mereka, membuat sebuah gambar, membuat lukisan jari, atau menempelkan cap ibu jarinya. Buku itu berfungsi sebagai sarana untuk mendorong anak-anak untuk memikirkan teman-teman mereka dan berinteraksi dengan anak-anak lain. Guru memperhatikan, bila ada kesempatan untuk dapat menarik perhatian anak-anak pada rencana Allah, sehingga mereka dapat saling mengasihi dan menikmati kebersamaan dengan teman-temannya. "Betapa senangnya kita mempunyai teman-teman di gereja! Terima kasih, Allah atas sahabat-sahabat yang mengasihi kami."

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Artikel: 
Belajar tentang Teman Sebaya
Judul Buku: 
Mengenalkan Allah Kepada Anak (Terjemahan dari Teaching Your Child About God)
Pengarang: 
Wes Haystead
Halaman: 
69 - 74
Penerbit: 
Yayasan Gloria
Kota: 
Yogyakarta
Tahun: 
1996

Komentar