Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Hambatan bagi Anak dalam Memahami Alkitab


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Anak-anak dapat dengan mudah mengembangkan perasaan positif mengenai Alkitab meskipun mereka amat sedikit memahaminya. Anak-anak diberitahu bahwa Alkitab itu penting, dan mereka menerima penilaian orang dewasa. Namun, istilah-istilah simbolis seperti "pelita", "pedang", dan "roti", yang tertulis dalam Alkitab, sering menimbulkan kesukaran bagi anak-anak. Mereka cenderung berpikir secara harafiah. Anak-anak yang agak besar pun mudah bingung kecuali diberi penjelasan. Seringkali anak memilih faktor-faktor yang tidak penting sebagai ciri utama. Penampilan Alkitab secara fisik, usianya, bahasa yang dipakainya di gereja, semua itu bagi anak merupakan suatu kualitas unik dan membuat Alkitab itu menjadi begitu penting. Anak memiliki pengertian minim atau bahkan sama sekali tidak mengenai bagaimana terjadinya Alkitab, kecuali pengertian yang samar bahwa Allah yang menulisnya. Karena Alkitab merupakan sarana yang dipakai untuk mengkomunikasikan konsep-konsep kekristenan kepada anak, maka kekeliruan konsep mengenai Alkitab dapat mempengaruhi konsep-konsep dan perasaan lainnya.

Satu masalah dalam penggunaan Alkitab bagi anak-anak kecil muncul karena usaha-usaha untuk mengajarkan Alkitab sebagai suatu pokok yang terpisah. Orang dewasa sering memaksatanamkan kesan pada anak akan pentingnya informasi tertentu. Jadi, cerita-cerita dan pernyataan-pernyataan dalam Alkitab sering diberi kata pengantar atau komentar agar anak-anak memperhatikan dengan sungguh-sungguh apa yang dikatakan. Dalam banyak hal, mungkin cukup efektif jika hanya dinyatakan bahwa peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi, dan biarkan cerita Alkitab menyatakan kebajikannya sendiri. Lebih dari itu, yakni menyelubungi kisah-kisah dalam Alkitab dengan menjadikan tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa begitu uniknya, sehingga anak tidak dapat mengidentifikasikan dirinya dengan semua itu, sering membuat anak menganggap bahwa tokoh-tokoh dalam Alkitab berbeda dengan yang selama ini mereka ketahui.

KESENJANGAN SEJARAH DAN BUDAYA

Hambatan utama bagi anak kecil untuk memahami Alkitab adalah adanya kesenjangan sejarah dan budaya yang amat besar antara pengalaman anak masa kini yang terbatas dengan kejadian dalam cerita-cerita Alkitab. Misalnya, kebanyakan anak yang berusia di bawah enam tahun sukar untuk mengingat peristiwa yang baru mereka alami sendiri. Karena itu, meminta mereka memiliki gambaran akurat secara mental mengenai kisah-kisah Alkitab merupakan tuntutan yang berlebihan. Anak, yang pola pikirnya cenderung berpusat pada diri sendiri, menganggap setiap orang juga hidup seperti yang dialaminya. Ia juga merasa yakin bahwa orang lain memandang semua situasi dengan cara pandang yang sama dengan dirinya. Terkadang usaha untuk menjelaskan beberapa perbedaan gaya hidup, perilaku, dan cara berpikir hanya akan menambah masalah, karena anak cenderung memutarbalikkan informasi untuk disesuaikan dengan pandangan hidupnya.

Misalnya, banyak cerita Alkitab yang terjadi di sekitar sumur, kehilangan maknanya bagi anak yang tidak dapat membayangkan apa itu sumur karena ia hidup dengan air ledeng. Juga, kebanyakan keluarga yang ada dalam Alkitab tampaknya agak kurang nyata bagi anak-anak yang pengalaman keluarganya terbatas pada pola keluarga kecil dengan sedikit anak, ibu yang bekerja, dan seringkali, tidak adanya ayah dalam keluarga itu. Upacara persembahan korban di Tabernakel atau Bait Suci amat asing bagi anak zaman sekarang. Dan, kesan serta pelajaran apa yang bisa diterima anak usia empat tahun mengenai cerita peperangan di kitab-kitab Perjanjian Lama?

Menggabungkan budaya yang berbeda merupakan hal yang amat sukar bagi anak yang belum mengerti mengenai kurun waktu. Bagi anak yang menggabungkan semua ingatannya dalam istilah "kemarin" atau "kemarin malam", ruang lingkup kronologi Alkitab sungguh amat rumit baginya. Anak yang kehidupannya didominasi oleh masa kini dan memiliki kesadaran yang amat minim akan kehidupannya sendiri sejak bayi, sukar untuk berpikir tentang Yesus sebagai bayi, lalu tumbuh menjadi anak dan laki-laki dewasa. Anak kecil yang mencoba menggambarkan bayi Musa, sang pemimpin bangsa Israel menyeberangi Laut Merah dalam keranjang yang dibuat oleh ibunya, harus memakai semua kekuatan mental untuk membuat setiap informasi yang diperolehnya cocok. Bahkan, sampai usia Sekolah Dasar, anak-anak masih sukar memahami tokoh dan kejadian mana yang terjadi sebelum atau sesudah Yesus, apalagi perbedaan yang amat besar dalam hal adat istiadat, nilai- nilai, dan pola-pola ibadah dalam periode sejarah Alkitab yang berbeda-beda.

PERBENDAHARAAN KATA

Kesukaran lain bagi anak adalah masalah perbendaharaan kata yang ada dalam Alkitab. Nama-nama Alkitab, misalnya, seringkali membuat tokoh-tokohnya tampak aneh bagi anak. Juga, susunan kata-kata kuno dalam Alkitab versi King James cenderung membuat orang-orang dan peristiwa-peristiwa menjadi kabur. Banyak kata dalam Alkitab yang sebenarnya penting, tetapi sukar dimengerti anak.

Seorang guru sedang bercerita kepada sekelompok anak usia lima tahun tentang kisah orang Samaria yang baik hati. Untuk melibatkan mereka, ia bertanya apakah mereka tahu apa yang dimaksud dengan "perampok". Setiap tangan diacungkan, karena mereka semua mendengar istilah itu berulang kali di televisi. Namun, tak seorang anak pun dapat memberikan jawaban yang benar. Guru itu merasa heran dan bingung, karena "perampok" bukanlah kata yang sukar dalam kisah itu. Tetapi nyatanya, tak seorang anak pun mengerti istilah itu. Dengan demikian, mereka kehilangan banyak makna mengenai kisah tersebut.

Kesalahpahaman semacam ini menimbulkan persoalan lain, yaitu kemampuan yang tampaknya bisa dikuasai anak, ternyata tidak dipahami sepenuhnya. Anak memiliki keinginan untuk dapat tetap hidup dalam dunia yang berada jauh di luar kemampuan berpikirnya. Dan, keadaan ini tampaknya telah memaksa anak untuk mengembangkan keahlian beraktingnya, sehingga ia dapat bersikap seolah mengerti sesuatu padahal sebenarnya tidak. Kelompok paduan suara dapat menggambarkan hal ini. Tiap anak bisa tampak ikut menyanyi dengan bersemangat, dengan suara yang tampak sudah terlatih baik. Tetapi, dengan memisahkan setiap orang dari kelompok itu, seringkali baru diketahui kalau ada anak yang tidak bisa menyanyi dengan baik. Anak yang tidak tahu syairnya, dapat mengeluarkan suara yang terdengar sama seperti yang dinyanyikan anak-anak lain. Yang mengherankan, anak itu dapat tampil sedemikian yakin dan tidak tampak bahwa sebenarnya ia tidak dapat menyanyi dengan baik.

Di lingkungan Kristen kesalahpahaman ini merupakan masalah yang serius. Anak, karena tidak mampu memahami arti sebuah kata, frasa, atau gagasan, namun tidak sadar bahwa ia keliru, akan menjawab dengan kata-kata yang pernah didengarnya dari orang dewasa atau anak lain. Orangtua dan guru menunjukkan rasa senang ketika mendengar anak bisa mengucapkan kata dengan susunan yang benar. Mereka jarang mendesak lebih jauh untuk menemukan apakah anak itu benar-benar mengerti apa yang diucapkannya atau tidak.

PROSES MENGHAFAL

Menghafal tanpa berpikir juga dapat menambah kesukaran anak dalam memahami Alkitab. Orang dewasa yang rajin dan penuh semangat seringkali berusaha keras memaksa anaknya menghafal sesuatu "yang akan dimengertinya kelak". Atau, mereka menganggap anak itu mengerti karena bagi mereka arti ayat-ayat itu begitu jelas. Oleh karena itulah, si anak dapat mengucapkan kata-kata itu. Orang dewasa merasa bangga. Tetapi anak itu mungkin tidak memiliki pemahaman yang sesungguhnya. Kata-kata, ungkapan, dan gagasan yang tak ada hubungannya dengan pengalaman anak pada saat itu, memiliki sedikit arti, atau bahkan tidak sama sekali, baik pada saat itu maupun pada masa yang akan datang.

SIMBOLISME

Simbolisme atau perumpamaan merupakan kesukaran lain bagi anak dalam memahami Alkitab. Banyak konsep Alkitab yang diungkap melalui perumpamaan dan alegori yang bagi orang dewasa memiliki arti penting, namun bagi anak-anak sering menimbulkan kebingungan sebab pikiran mereka didominasi oleh pengertian secara harfiah. Misalnya, anak yang masih mencari konsep diri, ide yang menyamakan dirinya sebagai domba atau carang tampaknya amat tidak menyenangkan. Ide-ide itu bahkan sering tidak pernah terpikir olehnya. Mungkin ia menikmati saat disuruh berpura-pura menjadi sesuatu yang lain. Ia gembira karena ia tahu bahwa itu hanya pura-pura. Konsep yang sungguh-sungguh yang diberikan dengan lambang-lambang biasanya mengandung gagasan yang serius, tetapi bagi anak, hal itu diartikan secara main-main dan harfiah.

Kesukaran anak dalam memahami simbolisme menunjukkan bahwa anak jarang berpikir melampaui arti simbol harafiah untuk dapat memahami pengertian yang kaya yang tersirat di balik simbol itu. Karena Alkitab sering memakai simbolisme untuk mengungkapkan suatu gagasan, maka anak mengalami kesukaran besar untuk memahaminya. Tetapi sekali lagi, ini merupakan masalah yang tidak diketahui anak.

Misalnya, banyak perumpamaan Yesus -- contoh ajaran yang baik sekali melalui simbolisme yang disalah mengerti oleh anak. Meskipun mereka dapat menikmati cerita tentang domba yang hilang, uang logam yang hilang, biji sesawi, atau perumpamaan tentang penabur, mereka cenderung memandang cerita itu semata-mata sebagai cerita yang menarik tentang domba, koin, dan benih. Kemampuan untuk melihat diri sendiri yang digambarkan Yesus melalui simbol-simbol tersebut, belum berkembang.

Usaha-usaha untuk menerapkan konsep cerita semacam ini ke dalam pengalaman hidup anak-anak amatlah sukar. Bahkan, anak-anak yang lebih besar pun mengalami kesulitan dalam mengambil gagasan dari suatu peristiwa dan menerapkannya pada situasi yang lain. Kisah yang gamblang sekali dari perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, yang dengan jelas menggambarkan seseorang yang menolong orang lain yang membutuhkan, sering disalahtafsirkan oleh anak-anak usia 11-12 tahun saat diminta untuk menerapkannya ke situasi yang berbeda. Betapa lebih sukarnya lagi jika hal ini harus diberikan kepada anak-anak di bawah usia 6 tahun!

MUJIZAT

Mujizat di dalam Alkitab seringkali merupakan hal yang sulit dimengerti oleh anak kecil. Bukan masalah ia dapat mempercayainya atau tidak, sebab anak kecil selalu siap menerima hal-hal yang ajaib. Masalahnya terletak pada soal melakukan mujizat itu. Misalnya, seorang guru Sekolah Minggu menceritakan kepada kelompok anak usia empat tahun tentang beberapa anak yang amat jengkel karena gara-gara hujan, piknik yang sudah direncanakan batal. Ia bertanya, apa yang dapat mereka lakukan untuk mengatasi hal ini. Dengan suara bulat, anak-anak itu menyimpulkan bahwa mereka harus berdoa dan memohon kepada Allah untuk menghentikan hujan. Dan seorang anak laki-laki menambahkan, "Seperti yang Yesus lakukan di perahu dulu ketika terjadi angin ribut."

Anak itu berpikir logis, "Karena Allah mengasihi saya dan memiliki kuasa, Dia pasti bersedia memakai kuasa-Nya untuk memecahkan masalah saya." Dan, karena ia merasa yakin tak ada yang lebih penting daripada persoalan yang dihadapinya saat ini, maka ia berharap Allah juga merasakan hal yang sama. Anak kecil cenderung memandang mujizat sebagai peristiwa yang dapat terjadi setiap hari, karena hubungan sebab-akibat masih sukar dimengerti olehnya. Cara kerja mesin mobil sama misteriusnya seperti Laut Merah yang terbelah. Anak mengalami kesukaran untuk menarik garis batas antara yang alami dan adikodrati. Seorang anak yang mendengar peristiwa mujizat dalam Alkitab menerimanya tanpa bertanya-tanya; seperti halnya berbagai peristiwa di dunia yang tampak terjadi secara mengagumkan.

Mungkin hal yang terpenting bagi seorang anak berkenaan dengan perbuatan mujizat dalam Alkitab adalah memahami tujuan dari tindakan Allah. Peristiwa kesembuhan secara fisik, misalnya, dapat dipakai secara efektif untuk menunjukkan kasih Yesus kepada seseorang. "Yesus menolong orang buta untuk melihat karena Dia mengasihinya" adalah hal yang sangat logis dan mudah dipahami anak.

"Yesus mengasihi teman-teman-Nya. Yesus tidak ingin teman-teman-Nya takut. Dia menolong mereka dengan menghentikan angin ribut." Penekanan ini memusatkan perhatian anak pada perbuatan Yesus. Apa yang dilakukan Yesus bukan merupakan tujuan akhir, melainkan dengan tindakan itu Dia ingin menunjukkan kasih dan belas kasihan-Nya kepada teman-teman yang mengalami kesulitan.

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Artikel: 
Anak dan Alkitab
Judul Buku: 
Mengenalkan Allah Kepada Anak (Terjemahan dari Teaching Your Child About God)
Pengarang: 
Wes Haystead
Halaman: 
90 - 96
Penerbit: 
Yayasan Gloria
Kota: 
Yogyakarta
Tahun: 
1996

Komentar