Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Guru Sebagai Pendidik


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Adalah celaka jika kita mau mendirikan sekolah, yang lebih dahulu dipikirkan adalah gedungnya, tetapi kemudian tidak mempunyai guru atau dosen yang baik. Celakalah kalau sekolah mempunyai fasilitas yang terbaik, tetapi guru-gurunya bermutu rendah. Jadi yang terutama adalah kebutuhan akan guru-guru yang bermutu tinggi. Kalau tidak ada guru yang baik, jangan harap bisa mendirikan pendidikan yang baik. Ini hal yang utama.

Seorang guru yang baik adalah guru yang tidak dikuasai dan berada di bawah situasi. Ia dapat mencari posisi yang baik untuk mengajar dan selalu akan berada di atas situasi. Jika guru sibuk sendiri mengatur anak-anak untuk diam, maka akhirnya guru itu sendiri yang paling tidak bisa diam. Guru yang baik akan memberikan perintah ataupun mengajar tidak dengan suara keras, tetapi justru dengan wibawa yang lebih kuat dari suaranya. Pada saat mengajar, mata perlu bisa melihat seluruh pendengar, dan menggunakan sorotan mata untuk bisa menguasai setiap pendengar, sehingga jiwa-jiwa itu terpaku kepadanya.

Banyak orang takut melihat mata saya, padahal saya orang biasa. Namun, pada saat saya naik ke mimbar, saya menguasai mereka dengan mata. Penguasaan mata mempunyai kekuatan yang jauh lebih berbicara dibandingkan dengan kalimat-kalimat yang disampaikan. Mata bisa berkuasa menembus jiwa orang. Ketika mendapat kesempatan untuk mengajar di sekolah, saya minta kepada kepala sekolah untuk mengajar kelas yang paling nakal. Saya mencoba menguasai kelas itu dan mencapai banyak kemajuan dan terus bertekad untuk maju.

Alkitab mengajar kita untuk memiliki hati berani, yang sadar, dan yang penuh dengan kasih. Berani bukan untuk liar, dan penuh kasih bukan untuk "banjir", tetapi berani yang diikat oleh kasih, dan kasih yang diikat oleh kesadaran. Terapkanlah teknik mengajar seperti ini dengan dilandasi satu kesadaran, yaitu Anda sedang berhadapan dengan jiwa-jiwa yang berpotensi untuk membangun atau merusak masyarakat, dan sekaligus menyadari betapa pentingnya jiwa anak-anak. Dengan kesadaran akan pentingnya hal ini, maka dengan sendirinya akan mengubah cara Saudara mengajar mereka. Ini yang disebut "the existential encounter caused by the existential consciousness" (semacam kesadaran eksistensial yang mengakibatkan secara otomatis terjadi perubahan eksistensial dalam menghadapi anak-anak). Itu merupakan suatu hal yang tidak bisa diuraikan dengan kalimat, karena pengertiannya melebihi kalimat, yaitu berupa kesadaran akan nilai yang berbeda, dan kesadaran itu akan menanamkan konsep nilai yang baru. Dulu Saudara memandang mereka sebagai anak- anak nakal yang selalu akan mengganggu. Sekarang Saudara melihat mereka sebagai jiwa-jiwa berharga yang masih Tuhan percayakan untuk dididik. Perasaan dan kesadaran sedemikian pasti mengubah Saudara menjadi "air hidup" yang tidak akan pernah merasa kekeringan. Dari hidup Saudara akan mengalir cinta kasih yang tidak pernah habis, mengalir terus-menerus.

Bukan hanya demikian, setiap kali Saudara melihat seorang anak, Saudara akan melihat satu oknum yang memiliki satu unsur yang disebut "diri". "Diri" ini ada di dalam dia, seperti juga "diri" ini ada di dalam Saudara sendiri, sehingga mungkin bagi kita untuk mengasihi dirinya seperti Saudara mengasihi diri sendiri. Ini merupakan kontak antara pribadi dengan pribadi. Saya tidak ingin guru-guru sekolah hanya mengontak muridnya dengan peraturan- peraturan sekolah atau dengan pengajaran dan kurikulum sekolah. Saya lebih senang guru mempunyai kontak dengan muridnya berupa kontak dari jiwa ke jiwa, dari hati ke hati, dari pikiran ke pikiran, dan dari emosi ke emosi. Berarti terjalinnya suatu hubungan antara pribadi dengan pribadi. Kalau perasaan itu keluar dari oknum dan menuju kepada oknum, dimana oknum yang kedua mempunyai perasaan yang secara pribadi dan secara eksistensial telah dipengaruhi oleh oknum yang lain, maka ia akan berubah. Ini adalah rahasia kesuksesan seseorang.

Orang lain tidak memandang Saudara di dalam jabatan sebagai guru atau kepala sekolah, atau yang lain, tetapi memandang Saudara sebagai pribadi. Biarlah Saudara tampil sebagai pribadi yang dihormati dan dikagumi oleh murid-murid, dimana kehadiran Saudara diharapkan untuk memberikan berkat dan kebenaran kepada mereka. Timbulnya perasaan seperti ini akan mengakibatkan pendidikan menjadi suatu aktivitas yang hidup, bukan aktivitas yang staffs. Kehadiran Saudara diharapkan akan membuat murid-murid menjadi senang, dan merupakan suatu berkat bagi mereka, bukan sebagai hal yang mengikat dan menakutkan.

Mengapa ada orang yang baru berbicara dua menit, sudah terasa begitu lama dan mengantuk, dan mengapa ada orang yang sudah berbicara lebih dari satu jam, tetapi orang merasa begitu singkat? Ini bukan teknik berbicara semata, tetapi ini merupakan masalah "person to person interest"; "person to person influence"; dan "person to person communication". Hal ini penting sekali. Jika tidak ada kontak dari pribadi ke pribadi dalam penginjilan pribadi, maka ketika diinjili, orang yang diinjili selalu merasa ingin lari. Jadilah seorang pribadi yang mengontak pribadi yang lainnya. Ini akan menjadikan Anda sebagai guru yang sukses. Jika pada suatu saat saya harus ceramah, namun saya tidak hadir, hanya mengirimkan kaset ceramah itu kepada Anda, apakah itu dapat dianggap sama dengan kehadiran saya? Saya rasa tidak. Jelas berbeda karena pribadi saya tidak hadir. Sekalipun sudah memiliki banyak pengetahuan akan pendidikan, jangan harap Saudara sudah langsung dapat menjadi guru.

Mark Twain mengatakan jika seorang mempunyai bakat di dalam, tetapi tidak dapat menyatakan keluar, itu berarti ia belum ada bakat. Bakat itu harus bisa dikomunikasikan dari pribadi ke pribadi. Kalau itu tidak ada, berarti belum sukses.

Kategori Bahan PEPAK: Guru - Pendidik

Sumber
Judul Buku: 
Arsitek Jiwa II
Pengarang: 
Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit: 
Lembaga Reformed Injili Indonesia
Kota: 
Jakarta
Tahun: 
1993

Komentar