Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Mengatasi Anak Kecil yang Berbohong


Jenis Bahan PEPAK: Tips

Apakah kebohongan pada anak batita (di bawah tiga tahun) merupakan perilaku yang perlu dikuatirkan? Apakah seorang anak batita yang "berbohong" dapat dikatakan telah berdosa? Apakah kebiasaan "berbohong" pada anak batita tertentu merupakan prediksi tentang sikap moral anak di masa yang akan datang?

Sebagai guru Sekolah Minggu, khususnya yang mengajar anak-anak pra-sekolah, kita perlu mencermati dengan lebih jelas mengenai kondisi mental serta penyebab munculnya kebohongan tersebut. Kasus kebohongan pada anak yang masih kecil ini biasanya agak berbeda dari kasus-kasus yang terjadi pada anak yang lebih besar, yang sudah memahami apa itu berbohong.

Sebuah buku pedoman mengenai anak batita Anak di Bawah Tiga Tahun: Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan pada salah satu bagiannya membahas khusus perilaku berbohong pada anak batita dan menjelaskan 4 alasan anak berbohong, yaitu:

  1. Kebutuhan untuk mempertahankan kebaikan
    Menurut pikiran anak batita, menolak mengakui perbuatan salah akan membuat perbuatan ini lenyap dan ia tetap 'bersih'.
  2. Keinginan untuk menghindari konsekuensi
    Pikiran anak berlanjut: "Jika saya tidak menceritakan pada ayah bahwa saya telah menjatuhkan crayon, mungkin saya tidak usah memungutnya kembali."
  3. Ingatan yang masih pendek
    Ketika Jonathan menuduh Laura merebut truk darinya, ia mungkin sudah lupa bahwa dialah yang merebutnya terlebih dulu dari Laura.
  4. Kesulitan membedakan kenyataan dan khayalan dengan sepenuhnya
    Ketika Kayla mendapat boneka baru, Hillary sama sekali bukan bersikap tidak jujur ketika berkata "Saya juga mendapat boneka baru." Bagaimana pun, mengucapkan khayalannya akan membuat ia merasa lebih baik.
Berhubung "kebohongan" pada anak batita kemungkinan besar disebabkan oleh pengertiannya yang masih berkembang tentang yang benar dan yang salah, tindakan yang jujur dan tidak jujur, dan seringkali "kebohongan" tersebut tidak digunakan untuk maksud jahat atau sudah dipersiapkan sebelumnya, maka jenis "kebohongan" ini tidak selayaknya mendapatkan hukuman.

Namun demikian, adalah tidak tepat juga bila kita membiarkan saja mereka "berbohong" dengan pemikiran toh nantinya mereka akan mengerti sendiri bila sudah besar. Justru di sinilah peran kita sebagai guru Sekolah Minggu untuk membentuk pemahaman yang benar dalam diri anak untuk bersikap dan berlaku jujur sejak dini.

Beberapa tips di bawah ini dapat membantu para guru untuk menanamkan kejujuran pada anak-anak pra-sekolah:

  1. Jangan membawa anak ke dalam "pencobaan"
    Bila anda dengan jelas melihat anak melakukan suatu perbuatan yang tidak benar, misal mendorong atau memukul temannya, jangan tanyakan "Apakah kamu yang mendorong Ani?" Sebaiknya langsung saja katakan "Saya lihat kamu mendorong Ani. Maukah kamu menceritakan pada saya mengapa kamu melakukan hal itu?"
  2. Jangan memaksa anak untuk "mengaku"
    Jika anda mendapati anak menyangkali perbuatannya (padahal dengan jelas anda telah melihatnya sendiri) janganlah memaksa dia atau memojokkannya sampai anda mendapatkan pengakuannya. Hal ini justru akan membuat perasaan anak terluka dan hubungan di antara kalian menjadi rusak. Lebih baik anda menjelaskan bahwa apa yang dilakukannya itu tidak benar (dan jelaskan secara singkat alasannya). Bila perlu berikan 'sanksi' atas tindakannya yang salah tersebut (BUKAN atas "kebohongan"nya) berikanlah dengan tegas dan tetap ramah. Jika dalam kasus tertentu anda tidak mengetahui kejadian sesungguhnya, jangan pernah sekali- kali menuduh anak, (misal: "Ari, pasti ini kamu yang memukul Nona") apalagi memberi hukuman padanya. Untuk hal semacam ini, lebih baik anda bertanya pada anak apa yang baru saja terjadi dan apa pun cerita mereka terimalah dan katakan, "Saya senang bila kamu mau mengatakan yang sebenarnya."
  3. Memberikan penghargaan pada anak yang berlaku jujur
    Bila ada anak yang jujur mengakui perbuatannya yang kurang baik, misalnya: mengaku telah memukul temannya, katakan padanya "Saya senang kamu mengatakan hal yang sebenarnya/jujur." Tapi, bukan berarti pengakuannya ini akan membuatnya terlepas dari tanggung jawab. Sebaiknya guru tetap memberikan 'sanksi' atas perbuatannya tersebut, misalnya dengan mengajaknya meminta maaf kepada teman yang baru saja dipukulnya.
  4. Menyampaikan cerita teladan
    Dalam beberapa kesempatan, ceritakan berbagai kisah Alkitab yang menyorot tindakan berbohong dan tunjukkan bahwa Tuhan tidak membenarkan tindakan tersebut. Beberapa cerita teladan di luar Alkitab juga dapat disampaikan pada anak, misalnya: "The Boy Who Cried Wolf" (Anak Laki-Laki yang Teriak Serigala).
  5. Menjadi teladan bagi anak
    Sebagai guru, kita sendiri harus mampu bersikap dan bertindak jujur. Bahkan "kebohongan putih" pun sebaiknya tidak dilakukan oleh guru Sekolah Minggu. Misalkan anak ingin bermain lift sementara ada banyak orang menunggu giliran untuk menggunakannya.
    Lebih baik langsung saja kita katakan "Maaf ya, kita harus bergantian karena ada banyak orang yang juga ingin menggunakan lift." daripada mengatakan "Wah, liftnya rusak!" atau "Awas, di dalam lift ada hantunya." dan macam-macam alasan tidak benar lainnya.
Bersikap dan berlaku jujur merupakan kebiasaan yang harus dipupuk sejak dini. Karena itu, didiklah anak-anak yang Tuhan percayakan kepada anda supaya mereka bertumbuh menjadi anak yang sehat jiwa serta rohaninya.

Selamat melayani.

Kategori Bahan PEPAK: Metode dan Cara Mengajar

Sumber
Judul Buku: 
Anak di Bawah Tiga Tahun: Apa yang Anda Hadapi Bulan per Bulan
Pengarang: 
Arlene Eisenberg; Heidi E. Murkoff; Sandee E.; Hathway, B.S.N.
Halaman: 
490 - 493
Penerbit: 
Penerbit ARCAN

Komentar