Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Natal dan Kasih Allah


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

KITA ADALAH OBJEK KASIH ALLAH

Di tengah kerisauan, kecemasan, ketakutan, kegelisahan, dan keputusasaan, kita melihat bahwa dunia tidak berubah menjadi lebih baik, tetapi semakin memprihatinkan. Moral manusia semakin merosot sekalipun kemajuan teknologi semakin canggih. Di masa raya Natal ini, ada baiknya kita merenungkan kembali cinta kasih yang sejati di tengah dunia yang sudah kehilangan cinta kasih ini, yaitu kasih Allah.

Mungkin Anda akan bertanya, bagaimanakah kasih Allah itu dinyatakan di tengah dunia yang penuh bencana ini? Justru di saat-saat seperti inilah kita makin perlu lebih meresapi kasih Allah itu.

Kasih Allah yang dirindukan oleh setiap orang, baik Kristen maupun non-Kristen, khususnya di masa yang menggelisahkan dan tidak menentu ini, dinyatakan dalam Injil Yohanes 3:16,

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Ayat tersebut tentu tidak asing ditelinga kita, bahkan dihafal oleh sebagian besar orang Kristen. Bahkan sering terpampang pula di stadion-stadion besar, ketika diadakan pertandingan sepak bola (football) dan di akhir Parade Mawar di Pasadena setiap hari pertama di tahun baru.

Namun, pernahkah Anda bertanya, "Mengapa Allah begitu mengasihi saya?" Dalam Mazmur 8:4 Daud pernah bertanya,

"Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?"

Sayang, ia tidak memberikan jawabannya. Memang banyak orang, bahkan orang Kristen sekalipun, berpendapat bahwa mustahil untuk mengetahui mengapa Allah mengasihi kita. Anda ingin tahu jawabannya? Bacalah 1Yohanes 4:8,

"Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih."

Di situ jelas dinyatakan, bahwa Allah adalah kasih dan kasih membutuhkan objek. Setelah menciptakan semua binatang, Allah tidak menemukan dalam diri hewan-hewan itu kemampuan untuk menerima kasih-Nya. Itulah sebabnya, Allah menciptakan manusia yang serupa dengan gambar-Nya dan yang kepadanya dihembuskan nafas sehingga manusia itu menjadi makhluk yang hidup, pribadi yang dapat bersekutu dan berkomunikasi dengan Allah (Kejadian 1:26; 2:7). Kita diciptakan Allah karena kitalah yang layak menjadi objek kasih Allah. Itu pula sebabnya, Allah begitu mengasihi kita dan mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal bagi kita.

Allah menciptakan manusia yang begitu dikasihi-Nya sehingga Allah mau mati baginya. Kita bukanlah tokoh film kartun atau robot, kita adalah peta dan gambar Allah. Dia menciptakan kita untuk dikasihi-Nya. Sekalipun kita terhilang dan memberontak kepada-Nya, Dia tetap mencari dan mau mengampuni serta menyelamatkan kita. Inilah berita kasih Allah bagi kita di Natal ini, di masa yang menggelisahkan dan tidak menentu ini!

Sekalipun umat manusia telah jatuh dalam dosa, Allah melihat di dalam diri manusia tetap ada peta dan gambar-Nya. Sekalipun umat manusia mengutuki sesamanya seperti yang dikatakan Yakobus 3:9,

"Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,"

Namun, peta dan gambar Allah tetap ada dalam diri kita. Allah mengasihi kita bukan karena kita tampan atau cantik, cerdas dan kaya, atau berbakat dan punya posisi, melainkan karena kita adalah ciptaan Allah yang menjadi objek kasih-Nya. Dia begitu mengasihi kita sebagaimana kita adanya dan tanpa syarat. Inilah pernyataan kasih Allah bagi kita di masa Natal yang menggelisahkan dan tidak menentu ini! Di dalam kasih Allah itu, kita akan menemukan kedamaian dan kepastian kasih.

KRISTUS ADALAH REFLEKSI KASIH ALLAH

Agar kita lebih mantap meresapi kasih Allah, lihatlah Yesus Kristus yang oleh Paulus dikatakan:

"Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan." (Kolose 2:9)

Dan Yohanes menyaksikan,

"Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya." (Yohanes 1:18)

Yesus Kristus, yang lahir pada hari Natal melalui anak dara Maria, hidup dan berkarya dalam sejarah manusia untuk menunjukkan kasih Allah yang kekal itu kepada kita. Itulah sebabnya, kita perlu sungguh-sungguh mengenal Yesus Kristus. Kasih Allah kepada kita dinyatakan oleh kasih Kristus kepada orang-orang yang Dia layani selama hidup-Nya.

Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia membuat yang buta melihat.

Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia membuat yang timpang berjalan.

Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia membuat yang tuli mendengar.

Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia membuat yang kusta menjadi tahir.

Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia membuat yang mati bangkit kembali.

Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia mengunjungi Samaria untuk melenyapkan ketegangan ras.

Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia menawarkan air hidup kepada kita, agar kita tidak kehausan akan cinta kasih dalam hidup ini.

Dia begitu mengasihi kita sehingga Dia mau bertelut dan mencuci kaki kita.

Namun kita tahu, Yesus Kristus datang bukan hanya untuk mengajarkan moral yang agung atau mengubah penderitaan menjadi kesejahteraan, kegelisahan menjadi kedamaian. Dia datang untuk mati menggantikan kita, itulah ungkapan kasih Allah yang terbesar.

"Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita." (1Yohanes 4:10)

Dia begitu mengasihi kita sehingga pada waktu yang ditentukan oleh Allah, Kristus telah mati untuk kita yang tidak setia.

Dia begitu mengasihi kita sehingga Kristus telah mati untuk kita yang lemah, yang tidak sanggup melakukan perintah-perintah-Nya.

Dia begitu mengasihi kita sehingga Kristus telah mati untuk kita yang adalah seteru dan senantiasa menentang kehendak-Nya.

Dia begitu mengasihi kita dengan kasih yang tidak terukur.

Kasih Allah lebih lebar dari alam semesta.

Kasih Allah lebih panjang daripada kekekalan. Kasih Allah lebih tinggi daripada segala langit.

Kasih-Nya lebih dalam daripada lubang maut hingga dapat mencapai Anda, orang yang paling berdosa sekalipun. Kasih Allah tidak mempunyai batas.

Dengan mengenal Yesus Kristus, tidak akan ada lagi ketakutan, melainkan keyakinan akan kasih Allah.

Tidak akan ada lagi keperihan, tetapi penghiburan kasih Allah.

Tidak akan ada lagi penolakan, tetapi penerimaan kasih Allah.

Tidak akan ada lagi kesedihan, tetapi kesukacitaan dalam kasih Allah.

Tidak akan ada lagi permusuhan, tetapi kerukunan dalam kasih Allah.

Tidak akan ada lagi air mata, tetapi sorak pujian atas kasih Allah.

Di hadapan Allah, yang ada hanya kasih, sukacita, damai, harapan, dan iman. Betapa bahagianya kita menyambut kasih Allah itu.

Semoga di masa Natal ini, di mana kerisauan dan ketidakpastian masih merasuk dalam hidup manusia sedunia, kita dapat lebih yakin bahwa kita adalah objek kasih Allah di dalam Yesus Kristus. Amin.

Kategori Bahan PEPAK: Perayaan Hari Raya Kristen

Sumber
Judul Buku: 
Newsletter GKI Monrovia, Th. XVII, No. 12, Desember 2003
Pengarang: 
Pdt. Bob Jokiman
Halaman: 
1 -- 3
Penerbit: 
GKI Monrovia
Kota: 
California, USA

Komentar