Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Saat Kami Merayakan Natal Secara Sederhana


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Sejauh yang saya ingat, keluarga kami sudah sering membicarakan tentang Natal yang dirayakan secara sederhana. Setiap tahun, setelah berbelanja, ibu saya akan pulang kelelahan atau setelah berjam-jam memanggang kue, ibu akan duduk di dekat meja dapur sambil memejamkan matanya, menarik napas, dan berkata, "Saya tidak mau lagi menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang merepotkan ini. Tahun depan kita akan merayakan Natal secara sederhana."

Dan apabila ayah saya mendengar perkataan ibu, ia pasti akan menyetujuinya. "Ya, merayakan Natal seperti ini tidak sebanding dengan waktu dan biaya yang sudah dikeluarkan."

Waktu kami masih kecil, saya dan saudara perempuan saya takut kalau- kalau ibu dan ayah akan segera menggenapi tekad mereka untuk menghemat biaya ketika merayakan Natal. Tetapi kalau ayah dan ibu memutuskan begitu, pikir kami, ada beberapa hal yang ingin kami perbaiki. Dua hal di antaranya adalah paman ibu saya, Lloyd dan istrinya, Amelia.

Sering Lizzie dan saya berpikir mengapa keluarga harus mempunyai sanak saudara, terutama mengapa kami ditakdirkan mempunyai saudara seperti Kakek Lloyd dan Nenek Amalia. Mereka pasangan yang kaku dan tidak menyenangkan. Mereka datang setiap Natal, memberi hadiah saputangan untuk Lizzie dan saya. Sebagai gantinya, mereka mengharapkan suasana yang tenang, penuh pelayanan, dan penuh hormat. Dan saya berarti harus merelakan kamar tidur saya untuk mereka.

Lizzie dan saya sudah lama menyadari bahwa mereka memang orang miskin dan kami bersimpati dengan keadaan mereka. Tetapi kami rasa kemiskinan bukan berarti membolehkan mereka untuk bersikap dingin, kaku, dan tidak ramah. Walaupun begitu, kami tetap menghormati mereka sebagai anggota keluarga kami. Dan selama bertahun-tahun, kedatangan mereka sudah merupakan bagian dari Natal, sama seperti pohon parasit.

Waktu berlalu sampai saya kuliah di tahun pertama. Mungkin karena saya tidak ada di rumah, maka ibu mulai menyinggung tentang Natal yang dirayakan secara sederhana tahun itu. "Karena tidak disibukkan dengan segala persiapan," tulisnya kepada saya, "kita akhirnya mempunyai waktu dan tenaga untuk menghargai Natal."

Seperti biasanya, ayah sependapat dengan ibu, tetapi menambahkan dengan sentuhannya sendiri. Kami tidak boleh mengeluarkan uang lebih dari satu dolar untuk membeli hadiah. Kata ayah, "Kami tidak mempersoalkan harganya tetapi kami kuatir, pikiran kita lebih tertuju pada hadiahnya."

Sayalah yang mengusulkan supaya perayaan Natal secara sederhana ini hanya terbatas untuk kami berempat. Usul itu diterima. Ibu menulis surat bernada ramah untuk pamannya, Lloyd. Dalam surat itu ibu menjelaskan, karena saya kuliah, karena satu dan lain hal, maka kami tidak merayakan Natal seperti biasanya. Karena itu, mungkin akan lebih menikmatinya bila mereka tidak repot-repot datang. Ayah melampirkan selembar cek, hadiah yang tidak diduga-duga.

Saya sampai di rumah dari kampus pada Natal tahun itu, ingin tahu apa yang akan terjadi. Di pintu depan tergantung hiasan Natal yang merupakan sambutan yang sesuai. Di ruang tamu, ada sebuah pohon Natal, dan saya akui waktu pertama kali melihatnya hati saya seperti tertusuk. Pohon tiruan itu begitu kecil dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pohon Natal tahun-tahun sebelumnya yang berbau khas, kokoh, dan mewah. Tetapi semakin lama saya perhatikan pohon itu dengan hadiah sedolar yang terbungkus dengan warna cerah di bawahnya, saya menjadi terbiasa. Bahkan saya mulai berpikir, pohon yang asli dapat menimbulkan sampah dan bahaya kebakaran, dan betapa anehnya, ada pohon hidup di dalam rumah. Rupanya gagasan merayakan Natal secara sederhana ini sudah dapat saya terima.

Pada malam Natal, ibu menyediakan hidangan lezat yang mudah dimasak dan sesudah itu, kami duduk berkumpul di ruang tamu. "Menyenangkan sekali," gumam Lizzie sambil merapat di kursi merah muda berbentuk kubis yang besar.

"Ya," kata ayah menyetujui. "Suasananya tenang. Saya tidak kelelahan. Baru partama kali ini saya merasa, saya dapat tetap terjaga sampai kebaktian nanti."

"Natal tahun lalu," kata saya kepada ibu, "pada waktu seperti ini, Ibu masih di dapur menyelesaikan pekerjaan sesudah memasak berjam- jam. Lebih banyak kue lagi. Juga lebih banyak kue buah." Saya ingat biasanya saya memaksa-maksa mencicipi kue buah buatan Ibu. "Padahal sebetulnya saya tidak menyukainya," aku saya sambil tertawa.

"Ibu tidak tahu itu," kata ibu. Ia berpikir sebentar. Lalu wajahnya menjadi cerah. "Tetapi Bibi Amelia -- dia sangat menyukainya!"

"Mungkin ia hanya bersikap sopan saja," kata Lizzie terang-terangan.

Lalu kami terdiam. Satu per satu, akhirnya kami menghabiskan waktu dengan membaca. Ayah tertidur sebentar sebelum pergi ke gereja.

Menjelang malam Natal, kami tidur agak malam dan begitu bangun, kami langsung sarapan sebelum membuka hadiah. Dan betapa senangnya kami sewaktu membukanya! Kami tertawa gembira karena kecerdikan dan gagasan segar yang kami miliki. Saya memberi ibu seperangkat bros yang saya buat dari sendok pengukur yang terbuat dari alumunium yang dihiasi permata tiruan. Ibu memakainya sepanjang hari, paling tidak sampai kami pergi ke Dempsey.

Di Dempsey, rumah makan terbaik di kota, kami menikmati santapan dengan nyaman dan tidak terburu-buru. Setelah sop kaldu dihidangkan, ada kejadian yang membuat kami merasa canggung. Kami mulai mengangkat sendok. Lalu ayah menyarankan supaya kami berdoa mengucap syukur. Kami mulai berpegangan tangan di sekeliling meja seperti yang biasa kami lakukan di rumah. Mulanya kami ragu-ragu dan menarik kembali tangan kami. Tetapi kemudian, kami semua bertekad untuk tidak mau ditakut-takuti oleh suasana di tempat umum, kami tetap berpegangan tangan, dan berdoa mengucap syukur.

Tidak banyak yang terjadi sepanjang sisa hari itu. Malam hari saya ke dapur, membuka lemari es, melihat-lihat sebentar, lalu menutup pintu dan kembali ke ruang tamu.

"Hanya main-main," kata saya, sama sekali tidak menyangka akibat ucapan saya yang berikutnya. "Saya hanya mau mencuil sepotong daging kalkun."

Ibu menjawab dengan suara datar, "Ibu tahu kamu ke dapur untuk itu. Dari tadi Ibu sudah menunggu-nunggunya."

Ibu tidak dapat menahan isak tangisnya lebih lama lagi. "Kate!" teriak ayah, cepat-cepat mendekatinya.

"Maafkan saya, maafkan saya," gumam ibu bercampur sedih.

"Mengapa sayang? Ceritakanlah kepada kami."

"Karena Natal yang dirayakan secara sederhana yang mengerikan dan tidak menyenangkan ini."

Kami semua tahu maksudnya. Natal kami kali ini dibuat-buat, seperti pohon Natal buatan itu; semangat Natal tidak begitu terasa. Dengan perayaan Natal secara sederhana seperti ini, kami telah kehilangan makna Natal yang sesungguhnya dan bahkan kami telah melupakan orang lain. Ini berarti kami menyangkal Dia yang kelahiran-Nya kami peringati. Kami menyadari bahwa kami masing-masing mementingkan diri sendiri pada hari Natal ini, tetapi ibu yang menanggung kesalahannya.

Setelah tangisan ibu agak reda dan kami berhasil menenangkannya, ibu mulai menjelaskan dengan caranya yang membuat kami bingung. Ibu seharusnya memasak di dapur tadi malam dan bukannya membuang-buang waktu," katanya mencoba menutupi perasaannya dengan kemarahan. "Jadi kamu tidak suka kue buah buatan Ibu, Harry? Sayang sekali. Padahal Bibi Amelia sangat menyukainya! Dan Elizabeth, meskipun bibi tidak menyukainya, seharusnya kamu tetap menghormati yang lebih tua. Kalian tahu siapa lagi yang menyukai kue buah itu? Ibu Donegan di ujung jalan itu menyukainya. Dan ia tidak menerima bingkisan Natal dari Ibu tahun ini. Mengapa? Karena kita mencoba merayakannya dengan sederhana." Lalu ibu menyalahkan ayah sambil menudingkan jarinya, "Kita tidak bisa berhemat-hemat untuk merayakan Natal, Lewis! Lihat akibatnya, kita sudah menutup pintu hati kita."

Tampaknya perkataan itu sudah merangkum semuanya.

Tetapi rupanya Lizzie mempunyai cara lain untuk mengemukakan pendapatnya. Ia menuliskannya dalam sepucuk surat setelah saya kembali kuliah. Suratnya enak dibaca. "Ibu merasa," tulis Lizzie, "tegangan dan tekanan itu merupakan kepedihan yang timbul pada hari Natal. Saya juga merasa begitu. Saya yakin, dari usaha, kelelahan, dan kesibukan yang kita lakukan dapat terjadi hal-hal yang mengejutkan, yang membawa ketentraman, sesuatu yang istimewa, dan tak ternilai harganya setiap tahun. Dan bila dari apa yang kita lakukan itu hanya dapat dirasakan sekejap saja, maka sudah sepatutnya kita mengeluh."

Apabila keluarga saya menganggap tahun itu seperti tidak pernah ada Natal, maka Natal berikutnya merupakan Natal yang sangat mewah. Natal itu sangat meriah dan merupakan masa yang paling melelahkan dalam keluarga kami. Dan itu bukan karena kami menghabiskan uang yang lebih banyak, tetapi karena kami sepenuhnya menikmati kegembiraan dalam mempersiapkan hari Natal. Di hutan, di pinggir kota, kami menebang pohon cemara terbesar yang pernah kami miliki. Lizzie dan saya menghiasi rumah dengan warna hijau. Aroma yang lezat datang dari dapur karena ibu terus-menerus memanggang kue. Kami tertawa, mendendangkan lagu-lagu Natal dan bersenda gurau. Bahkan pasangan yang biasanya berwajah kaku, paman ibu saya, Lloyd dan istrinya, Amelia, kelihatan agak gembira. Tetapi melalui merekalah saya tiba-tiba dapat merasakan aliran kehangatan dan keagungan perayaan ini, meskipun hanya sekejap, yang membuat Natal jadi berarti.

Itu terjadi ketika kami duduk di ruang makan dan saling berpegangan tangan untuk mengucap syukur, waktu saya menggenggam tangan bibi ibu saya, Nenek Amelia. Saya belajar sesuatu mengenai dia dan belajar tentang memberi, yang mungkin tidak dapat saya pahami tanpa Natal.

Tangan yang saya genggam itu dingin. Saya dapat merasakan ruas-ruas jari-jari tangannya yang menonjol, dan dapat membayangkan penyakit radang sendi yang dideritanya bertahun-tahun telah membuat jari-jari tangannya begitu. Barulah saya dapat menghargai saputangan yang Lizzie dan saya terima tahun ini, seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Untuk pertama kalinya, saya dapat melihat dengan jelas sulaman yang halus, hasil jahitan yang rapi -- hadiah dari bibi ibu saya Nenek Amelia, yang diberikan setiap tahun dengan penuh kasih untuk kami.

/Henry Appers

Kategori Bahan PEPAK: Perayaan Hari Raya Kristen

Sumber
Judul Buku: 
Kisah Nyata Seputar Natal
Pengarang: 
-
Halaman: 
44 - 48
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup
Kota: 
Bandung
Tahun: 
1989

Komentar