Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Belajar Alkitab


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Bila kelompok murid kelas empat diberi pertanyaan: "Menurutmu, apakah Alkitab itu?" Jawabannya bisa beragam, mulai dari "Alkitab adalah buku yang bagus", "Alkitab itu kasih", "Alkitab adalah segalanya", sampai "Alkitab adalah kebenaran, firman Tuhan".

Kebanyakan anak di kelas empat sudah siap untuk mempelajari pertanyaan-pertanyaan tentang Alkitab, misalnya bagaimana kita bisa mendapatkan Alkitab? Siapa yang menulis Alkitab? Tahun berapa Alkitab ditulis? Bagaimana Alkitab dijaga selama ini? Apa bahasa asli Alkitab ketika ditulis? Seperti apa bahasa asli Alkitab itu? Berapa banyak orang yang membantu menulis Alkitab? Alkitab itu terdiri dari satu kitab atau beberapa kitab?

Pada saat anak-anak menginjak tahun-tahun pertengahan sekolah dasar, mereka mulai menerima pelajaran tentang peta di sekolah. Pada saat yang sama kita perlu memperkenalkan peta-peta yang berhubungan dengan cerita-cerita tertentu dalam Alkitab kepada mereka. Bagaimana mereka dapat benar-benar memahami cerita tentang orang Samaria yang baik hati, kisah wanita di sumur, perjalanan bangsa Israel, atau perjalanan misi Paulus, bila mereka tidak mempelajari peta? Oleh sebab itu, guru sekolah minggu akan mempermalukan diri mereka sendiri, apabila mereka tidak mampu menggambar peta sederhana tanah Palestina.

"The Victor Handbook of Bible Knowledge" yang ditulis oleh V. Gilbert Beers merupakan sumber informasi yang sangat berguna. Di dalam buku ini terdapat peta-peta, ilustrasi, dan penjelasan tentang kehidupan pada zaman Alkitab.

Anak-anak yang usianya lebih dewasa juga sudah siap untuk belajar menggunakan kamus Alkitab atau konkordansi. Mungkin dalam mempelajari pasal-pasal tertentu dalam Alkitab ada suatu frasa yang tidak biasa digunakan oleh anak-anak atau yang sulit untuk mereka jelaskan dengan kata-kata mereka sendiri. Saat itu adalah kesempatan yang harus digunakan untuk membantu anak melihat bagaimana menggunakan kamus Alkitab, untuk mengetahui arti frasa-frasa tertentu tersebut.

Suatu kamus Alkitab bergambar bisa menjadi cara yang sangat menarik untuk mempelajari nama-nama yang ada dalam Alkitab, dan kamus ini juga menjadi alat yang sangat menolong anak-anak untuk menyiapkan laporan kelas.

Konkordansi adalah dasar yang efektif untuk mempelajari kata-kata. Kita ambil contoh kata "doa" sebagai kata yang akan dipelajari. Bawalah beberapa konkordansi ke kelas dan bagikan konkordansi itu kepada murid-murid Anda. Murid-murid bisa bekerja sendiri-sendiri atau berkelompok, tergantung jumlah konkordansi yang tersedia. Setiap kelompok bisa diberi tugas dari beberapa kitab di Alkitab. Tanggung jawab kelompok itu adalah mencari ayat-ayat dalam kitab-kitab yang berbicara tentang doa, kemudian kelompok itu menuliskan apa yang diajarkan dalam ayat itu. Setelah melaporkan apa yang mereka dapatkan, murid-murid Anda akan memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang apa yang Alkitab katakan tentang doa.

Anak-anak yang lebih dewasa juga bisa diajarkan bagaimana menggunakan suatu penjelasan (commentary) sebagai suatu alat untuk memahami suatu ayat dalam Alkitab.

Berimajinasilah supaya kegiatan mempelajari firman Allah ini menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan bagi murid-murid Anda di kelas dan anak-anak Anda di rumah. Dengan demikian kita tidak akan pernah menjadikan Alkitab sebagai sesuatu yang membosankan.

MENGHAFAL ALKITAB

Kristus adalah contoh yang dapat kita gunakan untuk menunjukkan pentingnya menghafal Alkitab. Pada saat Kristus dicobai oleh Iblis, Dia dapat mengalahkannya dengan menggunakan kuasa firman Allah. Kemenangan ini bisa terjadi karena Dia mengetahui dan hafal akan isi Alkitab. Demikian pula dengan anak-anak, bila mereka mengingat Alkitab, mereka bisa mengatasi godaan iblis dalam kehidupan mereka. "Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau." (Mazmur 119:11).

Clark memberikan beberapa alasan tentang mengapa kita perlu meminta anak untuk menghafalkan ayat-ayat Alkitab:

"Allah menggunakan firman-Nya tidak hanya untuk menghukum dosa, tetapi juga untuk membimbing menuju kebenaran dan hidup yang kudus. Menghafal ayat Alkitab bisa membantu anak-anak dalam mematuhi kuasa, mendapatkan dukungan, tahan godaan, bersaksi, membuat keputusan yang memuliakan Allah, mengekspresikan pikiran mereka kepada Allah, mengklim janji Allah, dan menyiapkan masa depan."

Anak-anak juga bisa didorong untuk menghafal bagian-bagian Alkitab sebagai alat yang bisa digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan dari teman-teman mereka mengenai Allah dan Alkitab. "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat." (1Petrus 3:15).

Banyak pemuda dan orang-orang Kristen dewasa, baik yang sedang sakit, maupun yang sedang mengalami masalah, telah diberkati karena menghafal beberapa ayat dalam Alkitab ketika mereka masih anak-anak.

Prinsip-Prinsip dalam Menghafal

Bagi beberapa orang, mengingat hanyalah mengulang kata-kata yang akan segera terlupakan. Berikut beberapa cara agar ayat hafalan bisa menjadi berarti dan selalu diingat.

  1. Bantulah anak dalam memahami arti dari ayat-ayat yang dihafal. Setelah suatu ayat dipahami, anak akan lebih mudah mengingatnya. Pahami cara mengingatnya.

  2. Tinjau ulang ayat-ayat yang dihafal. Kebanyakan orang akan belajar sungguh-sungguh hanya bila akan mengikuti ujian atau untuk mendapatkan suatu pengakuan. Tanpa melakukan peninjauan ulang secara berkala, pembelajaran seperti ini akan cepat dilupakan. Menggunakan ayat hafalan selama memberikan pelajaran akan membantu anak untuk tetap mengingat ayat yang harus dihafal.

  3. Gunakan alat bantu visual pada saat mengajarkan ayat hafalan. Kartu yang bisa bersinar (flash cards), OHP, perekam suara, boneka wayang, gambar, poster, puzzle, kode-kode rahasia, dan lagu adalah alat-alat yang bisa membantu anak untuk mengingat ayat hafalan. (Scripture Press membuat kartu-kartu ayat Alkitab, misalnya, Lukas 2:8-14; Roma 10:9-15; Mazmur 23; dan Matius 6:9-13).

  4. Pastikan Anda menyuruh anak menghafal ayat dari Alkitab versi modern yang mudah dimengerti. Misalnya, "Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu" (2Timotius 2:15).

  5. Bekerjasamalah dengan orang tua dalam memberikan tugas ayat hafalan ini. Orang tua bisa sangat membantu dengan memberi dorongan kepada anak untuk menghafal ayat. Orang tua dan anak memiliki waktu satu minggu penuh untuk meninjau ulang ayat yang dihafal dan untuk membantu anak-anak mereka menerapkan ayat tersebut dalam situasi tertentu.

  6. Kaitkan ayat hafalan dengan pelajaran. Clark menyarankan, salah satu cara yang paling tepat dalam mengajarkan ayat hafalan adalah dengan mengaitkan ayat tersebut dengan pelajaran yang diajarkan secara alamiah. Mungkin suatu ayat akan diulang beberapa kali selama pelajaran berlangsung dengan tujuan agar di awal dan di akhir pelajaran anak akan mengenal isi dasar dan arti ayat tersebut.

  7. Bantulah anak dalam memahami bagaimana menerapkan ayat tersebut dalam kehidupan mereka.

Adalah penting untuk menghafal ayat-ayat Alkitab dan pasal-pasalnya. Namun, jika ayat-ayat yang dihafalkan tidak mempunyai dampak dan tidak membawa perubahan dalam kehidupan anak-anak yang kita ajar, semuanya itu tidak ada gunanya.

Jika seorang anak prasekolah mampu mengatakan "Kasihilah sesamamu," tapi dia masih sering memukul, menggigit, menendang, dan merebut mainan temannya, bisa dikatakan bahwa dia belum benar-benar mempelajari ayat itu. Jika seorang anak berumur tujuh tahun mampu berkata, "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan karena haruslah demikian," tapi dia tetap saja tidak mau mematuhi perintah orang tuanya untuk mematikan televisi atau segera tidur, dia belum benar-benar mempelajari ayat itu.

Apakah anak-anak itu sangat sulit dan tidak dapat diajar? Belum tentu. Mungkin masalahnya ada pada guru atau orang tua. Sering kali, pengajaran ayat hafalan dilakukan seperti ini:

Guru: Seberapa banyak dari kalian yang menghafal ayat minggu ini?
(Beberapa anak mengacungkan jarinya.) Baik, Billy, katakan
ayat hafalanmu.
Billy: "Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN,"
Mazmur 92:1.
Guru: Bagus sekali, Billy, kamu boleh menambah satu bintang dalam
daftar prestasi. Selanjutnya kamu, Susan.

Saat tiga atau empat anak sudah mengatakan ayat hafalannya, ada kemungkinan tiga atau empat anak yang lain mengatakan ayat hafalan yang baru saja dikatakan oleh teman-temannya. Anak-anak sangat senang karena mereka bisa mengatakan ayat hafalan dan menaruh bintang di daftar prestasi. Kemudian guru beralih ke aktivitas berikutnya, tapi sering kali, ketika tiba waktunya berdoa, tidak terdapat hubungan antara ayat yang dihafal dan bersyukur pada Tuhan. Hanya membantu anak-anak menangkap arti dari sebuah ayat saja tidaklah cukup; mereka harus memahami bagaimana ayat tersebut berlaku dalam kehidupan mereka. Ayat dapat digunakan untuk menggambarkan berbagai aspek kehidupan anak di rumah, sekolah, taman bermain, gereja, dan dalam hubungannya dengan orang tua, saudara, dan teman-teman.

Tahap-Tahap Penghafalan

Langkah-langkah berikut ini bisa membantu Anda dalam mengajarkan ayat hafalan kepada anak-anak.

  1. Pastikan bahwa Anda memilih ayat yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan anak yang akan diajar.

  2. Pelajari dulu materinya dengan baik.

  3. Sajikan bahan dengan sebuah latar. Kaitkan secara alami ayat atau pasal dengan pelajaran. Ajarkan ayat tersebut dengan menggunakan melodi atau lagu, ceritakan kisah yang diulang-ulang di Alkitab dengan berbagai variasi, gunakan gambar untuk menggambarkan Alkitab, atau kaitkan ayat atau pasal dengan latar yang alami, misalnya proses penciptaan.

  4. Kenalkan seluruh pasal sebelum menganalisa bagian-bagiannya.

  5. Potong-potonglah ayat yang dipilih menjadi beberapa bagian dan analisalah masing-masing bagian dengan cermat. Analisalah kosakatanya, konsepnya, hubungannya, dan ilustrasinya untuk penjelasan.

  6. Ulangi seluruh ayat atau pasal yang hendak dihafal.

  7. Tunjukkan secara spesifik bagaimana hubungan ayat hafalan tersebut dengan kehidupan sehari-hari.

  8. Latihlah menghafal dengan cara yang menyenangkan dan dalam berbagai cara.

  9. Gunakan ayat atau pasal tersebut dalam kegiatan kelas atau departemen. Sering-seringlah meninjau ulang dan menanyakan maksud atau artinya.

  10. Doronglah anak-anak supaya melakukannya dalam kehidupan sehari-hari dan tindak lanjutilah dengan menanyakan bagaimana Allah bekerja melalui firman-Nya.

Adalah jauh lebih baik untuk menolong anak belajar dengan sungguh-sungguh beberapa ayat atau pasal saja daripada anak belajar banyak ayat atau pasal, tetapi tidak memberikan hasil yang baik.

Program-Program untuk Menghafal

Sebagian besar penerbit kurikulum materi penginjilan menyertakan suatu ayat hafalan yang berhubungan dengan setiap pelajaran. Bila kita menggunakan rangkaian kurikulum ini dengan baik, ayat-ayat hafalan ini bisa menjadi alat mengajar yang sangat baik. Ayat Alkitab membantu memperkuat kebenaran yang terkandung dalam pelajaran.

Tugas menghafal merupakan suatu bagian penting dari Awana Youth Association, Christian Service Brigade, Pioneer Clubs, dan program-program kelompok denominasi lainnya. Dalam program ini hadiah menjadi pendorong bagi anak untuk menghafal ayat Alkitab yang diberikan.

Di beberapa gereja anak-anak diminta untuk menghafal ayat-ayat di setiap beberapa pelayanan pendidikan termasuk sekolah minggu, gereja anak, dan kelompok minggu sore untuk anak-anak. Program ini memerlukan pengawasan yang cermat agar anak tidak terlalu terbebani dengan tugas yang diberikan dan untuk menghindari pengulangan ayat-ayat yang sama. (t/Dian dan Ratri)

Kategori Bahan PEPAK: Metode dan Cara Mengajar

Sumber
Judul Artikel: 
Learning About the Bible
Judul Buku: 
Childhood Education in the Church
Pengarang: 
Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck
Halaman: 
387 -- 392
Penerbit: 
Moody Press
Kota: 
Chicago
Tahun: 
1986

Komentar