Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Mengajar Anak Menggunakan Uang


Jenis Bahan PEPAK: Tips

Tanya jawab berikut ini diringkas dari transkrip kaset TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga - T072B). Bersama Pdt. Paul Gunadi, Ph.D. sebagai narasumbernya, kita akan belajar tentang cara mengajar anak agar bertanggung jawab dalam hal penggunaan uang.

T : Bagaimana orang tua mengajarkan kepada anaknya di dalam menggunakan uang yang dipercayakan kepadanya?

J : Sebelum kita masuk ke saran-saran praktisnya, kalau kita teliti dalam firman Tuhan ada satu tema yang mengalir dengan sangat kuat terutama di Perjanjian Baru tentang uang. Kita tahu Tuhan pernah berkata, "Engkau tak bisa melayani Tuhan dan Mamon." Mamon adalah representasi atau perlambangan dari uang, dengan kata lain ada satu hal yang Tuhan setarakan dengan diri-Nya yang begitu mengancam manusia dan berpengaruh terhadap manusia selain Tuhan, yakni uang. Jadi kalau kita menyadari bahwa Alkitab sendiri memberi begitu banyak peringatan tentang harta dan tentang uang, sudah pada tempatnyalah kita sebagai orang tua juga memperhatikan aspek ini. Ini adalah aspek kehidupan atau aspek dalam mendidik anak yang cukup sering terabaikan dan sekarang kita baru disadarkan bahwa ini adalah hal yang sangat penting sekali. Tuhan tahu bahwa hal ini bisa mengikis iman seseorang. Uang bisa menghambat pertumbuhan rohani kita, jadi sudah pada tempatnyalah kita sekarang sebagai anak-anak Tuhan memberi perhatian yang lebih besar terhadap uang dalam rumah kita. Bagaimana kita bisa mengajar anak-anak kita bersikap terhadap uang dan memakai uang dengan lebih bijaksana.

T : Bagaimana sebaiknya cara mengatur untuk memberikan uang jajan kepada anak-anak itu?

J : Anak-anak memang tidak lepas dari uang jajan. Biasanya kita mulai memperkenalkan uang pada anak dalam bentuk uang jajan. Sebelumnya uang itu dipegang oleh kita, dan barang-barang yang dia butuhkan kita yang membelikannya. Pada waktu anak-anak sudah berusia misalnya 6 tahun mulailah memberikan uang jajan. Konsep uang jajan menolong anak belajar mengatur uang, inilah aspek pertama yang kita harus ajarkan kepada anak. Anak bisa mengatur uang karena dia memegang uang, tanpa uang di tangannya tidak ada yang harus diatur. Pada anak-anak di bawah umur 8 tahun, kita beri uang jajan itu sehari demi sehari, mungkin kita bisa terapkan ini sampai kelas 6 SD. Anak-anak akan secara alamiah memberitahukan kita tadi beli ini itu, dari situ kita mulai tahu kira-kira apa yang ingin dia beli setiap hari dan kita bisa perhitungkan secara pas berapa uang yang dia butuhkan. Itu tahap pertama dalam pengaturan uang. Sewaktu anak-anak sudah SMP, sudah waktunya anak-anak diberikan uang yang lebih banyak. Misalnya kita berikan uang jajan untuk 3 hari tapi kita lebihkan sedikit untuk yang dia ingin beli. Dari situ dia mulai bisa belajar mengatur uangnya. Pada waktu anak duduk di bangku SMU, kita bisa berikan dia uang jajan untuk 1 minggu, termasuk uang yang dia pakai ketika pergi bersama temannya pada hari Sabtu atau Minggu. Dia harus belajar mengatur uang untuk keperluannya dan tidak bisa lagi meminta dari kita, karena itu adalah alokasi dana yang kita berikan kepadanya.

T : Prinsip apa yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak tentang pemakaian uang?

J : Kita bisa mengajarkan prinsip pemakaian uang yakni membedakan antara yang perlu dan yang tidak perlu. Membedakan antara membeli sesuatu yang hanya untuk menyenangkan hati, yang sedang model atau yang benar-benar dia butuhkan. Adakalanya anak membeli sesuatu bukan karena dia perlu, tapi karena menyenangkan hatinya. Atau adakalanya dia beli karena barang itu sedang model dan teman-temannya membelinya juga. Tapi yang penting adalah kita mulai mengajarkan kepadanya untuk melihat berapa uang yang dia punya, kalau uangnya hanya bisa untuk membeli barang yang dibutuhkan, itu yang harus dia utamakan. Setelah itu baru barang yang ia sukai dan yang terakhir kalau masih ada uang sisa bisa untuk membeli barang yang memang sedang model. Urutan ini jangan terbalik-balik, ada kecenderungan anak-anak kalau tidak kita ajarkan hal seperti ini begitu ada uang dia akan buru-buru membeli barang yang menjadi model. Jadi sejak kecil ajarkan bahwa kita adalah juru kunci yang Tuhan percayakan, jangan sampai kita sembarangan dengan kepercayaan yang Tuhan telah berikan kepada kita.

T : Mengajar anak menabung itu sampai seberapa jauh?

J : Anak-anak sering kali tidak bisa menabung dengan begitu saja, perlu ada objeknya, tujuannya. Misalkan dia ingin sesuatu tapi kita tahu harganya sangat tinggi, kita bisa katakan supaya dia menabung setiap minggu, nanti setelah misalnya 2 bulan uangnya itu akan mencapai ½ harga barang itu ½ nya akan Anda tambahkan, tapi ½ nya tetap dari uang tabungannya. Ini menolong anak memiliki motivasi menabung. Anak-anak belum mengerti arti menabung seperti kita ini, kalau kita menabung karena kita memikirkan jauh ke depan.

T : Bagaimana kalau sebaliknya, orang tua mengetahui anaknya meminjam uang temannya untuk membeli sesuatu barang?

J : Kita bisa tanyakan kepada anak apa yang membuatnya tidak meminta kepada orang tua tetapi meminjam kepada teman. Biasanya anak meminjam kepada teman karena dia tahu dia tidak bisa mendapatkannya dari orang tua. Ini bukanlah kebiasaan yang baik, Alkitab berkata: "Jangan berhutang kepada siapa pun kecuali berhutang kasih." Jadi memang Alkitab sangat menekankan bahwa kita sebagai anak Tuhan perlu mandiri, jangan mudah bergantung pada orang dalam hal finansial. Katakan kepada si anak bahwa berhutang itu bukan kebiasaan baik, meskipun bisa membayarnya nanti.

T : Apakah orang tua perlu langsung melunasi hutang anak kita atau membiarkannya menanggung sendiri sampai lunas?

J : Kita harus memberi tanggung jawab itu kepada si anak. Jadi uang sakunya berapa dari situlah kita potong, dia juga harus merasakan sakitnya membayar hutang. Anak-anak yang tidak pernah belajar membayar hutang tidak bisa menghargai artinya pemberian. Anak-anak yang terus menerima pemberian cenderung tidak menghargai betapa bernilainya pemberian itu. Tetapi ketika anak harus membayar sesuatu, hutangnya atau apa, dia lebih menghargai artinya pemberian. Jadi tanggung jawab membayar balik harus kita embankan pada si anak.

Catatan Redaksi:

TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga) adalah sebuah program pelayanan konseling melalui radio yang diselenggarakan oleh LEMBAGA BINA KELUARGA KRISTEN (LBKK). Fokus pelayanan mereka adalah memberi pembinaan kepada keluarga Kristen. LBKK telah mengembangkan kiprah pelayanannya ke dunia internet dengan mengemas pelayanan TELAGA dalam sebuah situs bernama Situs TELAGA. Selain berisi informasi tentang pelayanan LBKK dan program TELAGA, situs ini juga menampilkan rekaman kaset-kaset TELAGA yang tersedia dengan fasilitas audionya termasuk transkrip lengkap (versi tulisan) dari semua kaset TELAGA yang telah disiarkan lewat radio.
==> http://www.telaga.org/

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Buku: 
TELAGA

Komentar