Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Belajar Saling Memaafkan


Jenis Bahan PEPAK: Bahan Mengajar

Memaafkan orang lain merupakan suatu tindakan yang sulit, apalagi memaafkan orang yang telah mengecewakan dan menyakiti hati kita. Kita tidak boleh menaruh rasa dendam, apalagi membalas mengecewakan dan menyakiti hati mereka.

Tuhan Yesus meminta kita untuk mengasihi dan mengampuni saudara- saudara kita, bahkan Tuhan meminta kita untuk mengasihi musuh kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Ia meminta kita mempunyai hati yang tulus untuk memaafkan orang lain. Jikalau ada yang menyakiti, mengejek, dan dendam kepada kita, Tuhan ingin kita semua mengampuni mereka. Bagaimanakah kita dapat belajar untuk saling mengampuni dan memaafkan?

Di dalam Alkitab ada banyak tokoh yang berjiwa besar dan mau mengampuni orang yang bersalah kepada mereka. Mari kita belajar memaafkan dari tokoh-tokoh Alkitab ini.

1. Esau memaafkan Yakub adiknya.

"Tetapi Esau berlari mendapatkan Yakub, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka." (Kejadian 33:4)

Yakub telah merebut berkat yang seharusnya diterima oleh Esau. Pada mulanya Esau sangat marah, bahkan ia ingin membunuh Yakub! Tetapi setelah waktu berlalu, Esau dapat menerima dan memaafkan Yakub. Bahkan mereka berpeluk-pelukan. Esau mencium adiknya dengan kasih sayang.

2. Yusuf memaafkan saudara-saudaranya.

"Yusuf mencium semua saudaranya itu dengan mesra dan ia menangis sambil memeluk mereka. Sesudah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-cakap dengan dia." (Kejadian 45:15)

Kita tentu telah mengetahui cerita mengenai Yusuf yang dijual oleh saudara-saudaranya. Bahkan pada awalnya saudara-saudaranya bermaksud membunuh Yusuf. Bersyukurlah Tuhan memelihara Yusuf. Nah, suatu hari Yusuf menjadi perdana menteri di negeri Mesir. Setelah menjadi orang yang berkuasa bisa saja Yusuf membalas dendam pada saudara-saudaranya. Namun Yusuf tidak melakukannya. Dia bahkan menolong saudara-saudaranya dan mengampuni mereka. Saudara-saudara Yusuf pada mulanya ketakutan kalau Yusuf akan membalas dendam kepada mereka. Namun ternyata Yusuf memeluk mereka dengan mesra, mencium mereka dan menangis penuh kerinduan. Inilah kebesaran hati Yusuf.

3. Musa memaafkan Harun dan Miryam.

"Lalu berserulah Musa kepada Tuhan: "Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia."" (Bilangan 12:13)

Pada waktu itu Musa memimpin umat Israel keluar dari Mesir. Mereka berjalan melewati padang gurun. Saat itulah Harun dan Miryam, kakak-kakak Musa menghina Musa. Mereka cemburu pada Musa. Mereka tidak mau dipimpin oleh Musa. Padahal Musa adalah pemimpin yang diangkat oleh Allah. Akibatnya Allah menjadi marah pada Harun dan Miryam, lalu menghukum mereka dengan penyakit kusta. Apa yang dilakukan oleh Musa? Apakah dia berteriak "rasain Lu!" Tidak! Musa mengampuni mereka dan bahkan berdoa kepada Tuhan agar menyembuhkan Harun dan Miryam. Mengapa dia mau melakukan hal itu? Alkitab mengatakan hati Musa sangat lembut (Bil 12:3). Karena itu dia juga seorang pemaaf.

4. Daud memaafkan Saul.

"Daud tidak mengizinkan orang-orangnya bangkit menyerang Saul." (1 Samuel 24:8)

Saul sangat membenci Daud, dan telah beberapa kali berusaha membunuh Daud. Daud terpaksa melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain. Saul mengerahkan segenap kekuatan untuk mengejar dan membunuh Daud. Sampai suatu saat Saul sedang membuang hajat di dalam sebuah gua, tempat persembunyian Daud. Ini kesempatan baik untuk menghajar Saul. Pengikut-pengikut Daud juga berpikiran begitu. Mereka ingin membunuh Saul. Tetapi apa yang dilakukan Daud? Apakah dia membalas dendam? Tidak! Dia hanya memotong sedikit kain baju Saul untuk menyatakan kalau dia mau membunuh Saul, sangat gampang. Tetapi dia memaafkan Saul dan melepaskannya.

5. Yesus Kristus memaafkan orang-orang yang menyalibkan Dia.

"Yesus berkata, Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang telah mereka perbuat." (Lukas 23:34)

Tidak perlu diungkapkan lagi betapa sengsaranya Tuhan Yesus dipukul, dihina, diludahi, dicambuk, ditendang, dipaku, dan digantung di atas kayu salib oleh orang-orang jahat yang membencinya. Kalau Yesus Kristus mau menghancurkan mereka, itu adalah hal gampang. Dia hanya tinggal berseru, maka ribuan malaikat akan turun untuk memusnahkan musuh-musuhNya. Tetapi Yesus tidak membalas dendam. Dengan hati yang Tulus dan penuh kasih, Dia mengampuni mereka. Dia bahkan juga berdoa kepada Allah Bapa untuk mengampuni orang-orang jahat itu.

6. Stefanus mengampuni orang-orang yang membunuhnya.

"Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: "Tuhan janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!"" (Kisah Rasul 7:60)

Kisah Stefanus mirip kisah Tuhan Yesus, sebab Stefanus mencontoh Tuhan Yesus. Stefanus adalah seorang penginjil yang rajin. Suatu saat dia ditangkap dan dilempari batu sampai mati oleh orang- orang yang membenci Injil. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia sempat berdoa untuk musuh-musuhnya. Dia memaafkan mereka dan memohon agar Tuhan mengampuni dosa-dosa mereka. Seharusnya dia marah sekali, karena dia mati dilempari batu. Tetapi dia memaafkan mereka. Inilah hati seorang pengikut Yesus. Hati yang penuh kasih untuk memaafkan orang-orang yang menyakiti kita.

7. Paulus memaafkan orang-orang yang meninggalkan dia.

"Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak ada seorangpun yang membantu aku, kiranya Tuhan mengampuni mereka." (2 Timotius 4:16)

Paulus dipenjarakan karena memberitakan Injil. Pada waktu ia dipenjarakan, banyak teman-temannya yang meninggalkan dia. Mereka takut ikut dipenjarakan dan dianiaya. Mereka sama sekali tidak membantu Paulus, justru pada waktu Paulus amat membutuhkan mereka. Seharusnya ini membuat Paulus marah kepada mereka dan tidak mau lagi berteman dengan mereka. Tetapi Paulus dengan penuh kasih memaafkan dan berdoa agar mereka diberkati Tuhan.

8. Filemon memaafkan Onesimus budaknya.

"Sebab mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak dari padamu, supaya engkau dapat menerimanya untuk selama-lamanya." (Filemon 1:15)

Onesimus adalah pembantu rumah tangga Filemon. Suatu hari dia mencuri barang dari Filemon dan melarikan diri. Dalam pelarian itu, Onesimus bertemu Paulus. Tak lama kemudian Onesimus bertobat dan percaya Tuhan Yesus. Oleh Paulus, Onesimus dikirim kembali ke rumah Filemon. Paulus menulis surat dan meminta kepada Filemon untuk menerima kembali Onesimus dan mengharapkan agar Filemon mau memaafkan Onesimus.

Kategori Bahan PEPAK: Pengajaran - Doktrin

Sumber
Judul Buku: 
KITA - Majalah Kristen untuk Anak-anak
Halaman: 
4 - 6
Penerbit: 
Lembaga Reformed Injili Indonesia
Tahun Edisi: 
1994
Nomor Edisi: 
21

Komentar