Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Anak dan Televisi (Transkrip TELAGA T066A)


Jenis Bahan PEPAK: Tips

Tanya jawab berikut ini diringkas dari transkrip kaset TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga - T066A). Bersama Pdt. Paul Gunadi, Ph.D. sebagai narasumbernya, kita akan bersama-sama mengulas tentang televisi dan program siarannya yang bisa memberikan dampak positif sekaligus negatif pada anak-anak.

T: Televisi rupanya sudah umum ada di setiap rumah, dan sekarang makin banyak pilihan saluran televisi dan berbagai program acaranya. Kehadiran televisi dan acara-acaranya itu pasti membawa dampak pada anak, khususnya anak-anak yang masih di bawah usia 10 atau 9 tahun. Bagaimana itu bisa terjadi?

J: Televisi adalah sesuatu yang menayangkan acara-acara yang menarik, menggugah dan dikemas sedemikian rupa untuk bisa menarik para pemirsanya. Pada saat ini kita perlu memeriksa apa dampak televisi pada anak-anak. PERTAMA, kita perlu melihat, siapakah atau bagaimanakah keadaan anak terutama pada anak-anak yang berusia di bawah 10 atau 9 tahun. Anak-anak pada usia itu berada pada tahap pemikiran yang konkret. Mereka belum mampu berpikir dengan abstrak. Anak-anak ini belum mampu melihat hal yang tidak tampak dan hal yang tampak. Dengan kata lain, bagi si anak apa yang dilihat adalah apa yang terjadi, misalkan dia melihat hal yang menakutkan seperti laba-laba yang bisa memakan manusia. Bagi dia, hal itu benar-benar terjadi, yakni laba-laba itu bisa memakan manusia. Pada usia-usia ini anak-anak belum bisa memisahkan yang fiksi dari yang realitas.

KEDUA, anak-anak berada pada tahap pembentukan moralitas. Prinsipnya di sini adalah apa yang dilakukan pahlawannya adalah apa yang benar. Anak-anak yang berada pada tahap pemikiran konkret dan pembentukan moralitas ini mulai menentukan apa yang benar dan apa yang salah. `Apa yang benar apa yang salah` itu diserapnya bukan saja dari perkataan orangtua atau guru Sekolah Minggu, tapi juga apa yang dikatakan oleh teman-temannya, termasuk dalam hal ini adalah apa yang ditangkapnya dari televisi. Dia belum mempunyai kemampuan untuk menyortir etika situasi dan belum bisa mengerti bahwa ada etika yang absolut. Pokoknya apa yang dilakukan oleh jagoannya sudah pasti benar, sekalipun dia membunuh orang. Karena pola pikirnya yang masih konkret itulah yang menjadi kebenarannya.

T: Bagaimana kalau yang dilihat anak adalah sebuah film kartun yang menampilkan gambar dan juga tokoh-tokohnya? Dari film itu sebenarnya anak sudah bisa membedakan mana yang fiksi dan mana yang realitas.

J: Dari film-film kartun memang dampak riilnya sangat berbeda dari film yang lebih nyata, karena film yang nyata lebih mirip dengan kehidupan yang dilaluinya. Film kartun lebih mudah diterima anak sebagai sesuatu yang tidak riil dalam kehidupannya. Namun tetap harus saya ingatkan bahwa apa yang dilihatnya tetap akan diserapnya. Dia tidak menyerapnya secara langsung, otomatis dia akan menyerapnya tanpa sadar. Nah apa yang dilakukan oleh pahlawan-pahlawan kartunnya, tanpa disadari akan dianggap sebagai sesuatu yang benar.

T: Kalau anak melihat peristiwa yang terjadi berulang-ulang, lama- kelamaan akan muncul semacam keyakinan di dalam dirinya. Bagaimana itu bisa terjadi?

J: Biasanya waktu anak melihat sesuatu secara berulang kali, yang terjadi adalah toleransi. Dia mulai menoleransi bahwa yang terjadi itu sesuatu yang memang biasa, sesuatu yang harus diharapkannya terjadi dalam hidup ini. Reaksi-reaksi yang seharusnya muncul misalnya reaksi jijik, reaksi ini tidak benar, akan hilang. Jadi misalkan dalam cerita pembunuhan ada seseorang ditusuk, bagi si anak mula-mula dia akan memberikan reaksi yang sangat keras terhadap tindakan tersebut. Namun kalau dia terlalu sering menyaksikannya, maka terbentuklah toleransi. Dia mulai merasa bahwa itu biasa dan tidak lagi menimbulkan reaksi yang tidak enak pada dirinya.

T: Apa yang ditayangkan di televisi tidak semuanya jelek, ada juga acara untuk anak-anak. Adakah sisi positifnya?

J: Sudah tentu ada, televisi itu mempunyai unsur-unsur hiburan, rekreasional dan itu bisa memberi anak kesempatan untuk merasa santai, tidak terlalu tegang. Apa yang dilihatnya bisa membawa penghiburan baginya, kesenangan hatinya, menenangkan jiwanya, dan itu merupakan hal yang positif. Tapi perlu ditegaskan sekali lagi bahwa orangtua perlu menolong anak untuk menyeleksi apa yang dilihatnya sesuai dengan usia anak. Contohnya untuk kasus yang konkret misalnya anak-anak ikut-ikutan orangtua menonton sinetron, padahal banyak sinetron yang berisikan kisah perselingkuhan dan biasanya si suami yang berselingkuh. Anak kecil bisa mengembangkan pikiran bahwa semua pria itu tidak setia pada istrinya. Ada kemungkinan anak mulai mengembangkan pikiran bahwa papanya juga seorang kandidat ketidaksetiaan, atau papanya mungkin mempunyai wanita lain. Hal-hal ini kalau ditonton oleh anak, maka orangtua harus menetralisirnya.

T: Jadi kuncinya terletak pada bagaimana orangtua mengatur jam dimana anak boleh menonton televisi dan memberikan pengarahan. Masalahnya orangtua jarang mendapat bimbingan untuk itu, bagaimana mengatasi keadaan yang seperti ini?

J: Disarankan agar orangtua duduk bersama anak-anak waktu menonton acara anak-anak sehingga mereka mempunyai gambaran kira-kira tentang yang ditonton. Saya dan istri saya juga tidak senantiasa menonton bersama anak, tapi ada beberapa kali misalnya seminggu sekali kami akan duduk bersama anak-anak, sehingga kita bisa menilai apakah tayangan itu cocok ditontonnya dan apakah perlu toleransi atau koreksi yang harus kita berikan pada anak kita.

T: Bagaimana jika anak kemudian menyangkal atau membantah apa yang orangtua katakan?

J: Itu bisa menjadi ajang diskusi dan menjadi hal yang positif. Televisi tidak semuanya jelek, banyak hal yang bagus dan memang sangat bermanfaat. Secara keseluruhan televisi banyak manfaatnya asalkan kita menyortir dan membimbing anak-anak kita.

T: Dalam hal ini adakah Firman Tuhan yang bisa menjadi pegangan dan pedoman bagi orangtua khususnya?

J: Filipi 4:8, "Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." Tuhan menginginkan kita memasukkan hal yang baik, yang indah ke dalam pikiran kita. Jangan sampai kita mengotori pikiran kita. Kita harus melindungi anak-anak kita dari pikiran-pikiran yang bisa mencemarinya, baik itu seks yang terlalu dini, baik itu film yang terlalu menegangkan atau baik itu kisah kehidupan yang tidak riil sama sekali. Anak-anak kita perlu menyadari dan menangkalnya sendiri sehingga tidak menyerapnya dan membabi buta.

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Buku: 
Transkrip Kaset TELAGA No. #066A

Komentar