Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Menanamkan Karakteristik Pikiran Ilahi


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Melalui teladan dan perbuatan-Nya selama melayani di dunia ini, Tuhan mengajarkan mengenai bagaimana kita harus mengasihi. Untuk itu, jika kita ingin anak-anak yang kita layani, bahkan kita sendiri dapat mengasihi Tuhan, maka karakter Kristus harus ada dalam hidup kita. Memahami dan menanamkan karakter pikiran Allah akan membantu kita dalam mengajar anak untuk semakin mengasihi Allah. Berikut enam karakter pikiran Allah yang dapat dibagikan kepada anak layan, teman sepelayanan, atau bagi diri kita sendiri.

HIDUP

Allah berkata bahwa pikiran kita diciptakan sebagai pikiran yang hidup. Tentu saja Anda tidak menginginkan pikiran yang mati. Meskipun demikian, coba pikirkan apa yang dikatakan berikut: "Karena keinginan [dalam New American Standard Bible digunakan istilah `mind` atau `pikiran` daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera." (Roma 8:6) Jika kita memiliki pikiran Kristus, maka sikap kita terhadap dosa akan berubah. Itu akan memengaruhi kita dalam menentukan pilihan. Bahkan selanjutnya, kita dimampukan untuk mengambil pilihan-pilihan yang menentang adat budaya. Ya, kita bisa memilih gaya hidup yang berbeda karena kita hidup. Sayang, sedikit sekali orang tua yang pernah berkata kepada anaknya, "Kamu memiliki kuasa untuk berkata `tidak` terhadap hal-hal yang tidak baik, kuasa untuk mengucapkan kata-kata yang dapat menolong sesama, kuasa untuk menguasai amarah dan menjadi berbeda. Mengapa? Karena pikiranmu yang hidup memiliki kekuatan. Dan, pikiranmu hidup karena Yesus tinggal di dalammu." Hal ini perlu kita renungkan.

DAMAI

Kedua, pikiran orang-orang kristiani ialah pikiran yang damai. Dalam terjemahan New American Standard Bible disebutkan, "The mind set on the Spirit is life and peace." Artinya, "Pikiran yang diarahkan dalam Roh Kudus ialah hidup dan damai sejahtera." (Roma 8:6) Tugas Anda dan saya adalah mengarahkan pikiran kita, maka Allah akan memberi damai di dalamnya.

TERARAH PADA SATU TUJUAN

Ketiga, ada kata sifat lain yang menggambarkan pikiran orang-orang kristiani: terarah pada satu tujuan. "Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya." (2 Korintus 11:3)

Jika Anda ingin melihat teladan kehidupan Yesus lainnya untuk Anda ikuti, kita dapat melihatnya di Yakobus 3:13,17. Nasihat ini didasarkan pada hikmat yang dari Allah, bukan dari hikmat yang ditawarkan budaya kita. "Siapa di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah dengan cara hidup yang baik ia menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemah-lembutan .... Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama kemurnian, selanjutnya suka damai, lembut, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik." Inilah sebagian gambaran tentang kebajikan yang ada dalam kehidupan Yesus. Tidak inginkah Anda melihat sifat-sifat tersebut berkembang dalam hidup anak Anda?

Ada banyak hal yang dapat membingungkan dan memikat pemikiran kita. Semuanya bisa tampak menarik. Demikian pula ada pertarungan besar untuk memenangkan pikiran anak Anda. Pertarungan itu merupakan perjuangan yang terus-menerus, dan hal-hal yang membingungkan itu dapat menyesatkan, sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus. Bahkan saat kita berdoa, membaca firman Tuhan, dan duduk di gereja, pikiran kita dapat berkelana ke mana-mana. Ia berputar-putar dan berjuang untuk tetap memusatkan perhatian. Namun, kita dipanggil untuk tetap terarah pada satu tujuan, bukan untuk dibingungkan dan disesatkan.

RENDAH HATI

Sifat keempat pikiran ilahi kita temukan dalam Filipi 2:3: "... tanpa mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri." Pikiran diarahkan pada kerendahan hati. Terjemahan bebas Alkitab versi Phillips untuk ayat ini dapat dituliskan sebagai berikut: "Hiduplah bersama dalam keharmonisan, dalam kasih, seperti hanya terdapat satu pikiran dan satu roh di antara kalian. Jangan pernah bertindak berdasarkan keinginan untuk bersaing atau meninggikan diri sendiri, tetapi dengan rendah hati bertindaklah untuk lebih memikirkan orang lain daripada dirimu sendiri."

SUCI

Karakteristik lain dari pikiran ilahi ialah suci. "Bagi orang suci, semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman, suatu pun tidak ada yang suci, karena baik akal budi maupun suara hati mereka najis." (Titus 1:15) Salah satu perjuangan yang akan dihadapi anak Anda ialah perjuangan melawan keinginan akan hal-hal yang tidak seharusnya menjadi bagian hidup mereka. Mereka akan terus-menerus menghadapi pencobaan untuk hanyut dalam aktivitas-aktivitas yang tidak sesuai dengan kehidupan kristiani. Seorang anak atau pun seorang dewasa tidak dapat duduk menunggu saja dan baru memutuskan tindakan yang akan dilakukan saat pencobaan datang. Anak-anak yang diajar orang tuanya untuk berkata "tidak" terhadap obat-obatan, seks, alkohol, kelompok pergaulan yang tidak sehat, dan lain-lain, dan yang juga diajar untuk melawan tekanan yang terus-menerus untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, berpeluang lebih besar untuk dapat bertahan. Saya tahu karena saya mengalaminya.

Saat saya duduk di bangku SMU, kelompok gereja kami mengadakan program menghafalkan ayat Alkitab dari The Navigator. Salah satu ayat yang saya hafalkan adalah 1 Korintus 10:13: "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya." Saya tidak tahu berapa kali ayat itu terlintas dalam benak saya (bukan secara kebetulan!) ketika saya dihadapkan pada pilihan untuk melakukan sesuatu yang benar atau salah. Harus saya akui bahwa saya tidak selalu senang saat diingatkan akan ayat tersebut, tetapi ayat itu telah menyelamatkan hidup saya. Mengatasi pencobaan hidup bukan tindakan yang baru dipikirkan saat pencobaan itu datang, tetapi telah ditetapkan dan direncanakan sebelumnya.

PEKA DAN MAU MENDENGARKAN

Karakteristik keenam pikiran ilahi ialah peka dan mau mendengarkan. Pada malam setelah Yesus bangkit, Dia membuka pikiran murid-murid-Nya agar memahami firman Allah. Para murid mau mendengarkan dan mempelajari apa yang sudah dikatakan-Nya. Sikap mau mendengarkan Allah akan menghasilkan kepekaan rohani yang membawa kita untuk memeroleh kemajuan. Yesus sendiri menjadi teladan dalam hal ini karena Dia peka mendengarkan suara Allah. Dia berkata, "... Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku" (Yohanes 8:28). Yesus melihat apa yang dilakukan Bapa-Nya, mendengarkan-Nya, dan tidak berbuat apa-apa lepas dari kehendak Bapa.

T.W. Hunt menggambarkan tanggapan kita demikian: Sebagaimana Bapa bagi Kristus, demikianlah Kristus bagi kita. Kristus meneladani Bapa; kita meneladani Kristus. Kristus melihat apa yang dilakukan Bapa; kita memerhatikan dengan saksama aktivitas Yesus di dunia (dalam hal ini, termasuk aktivitas-Nya sekarang). Kristus mendengarkan Bapa; kita mendengarkan Dia. Bapa mengajar-Nya; Dia mengajar kita. Kristus tidak melakukan apa-apa lepas dari kehendak Bapa; kita tidak dapat berfungsi jika tidak bergantung kepada Dia. Kristus sangat dekat dengan Bapa; kita harus tetap tinggal dekat dengan-Nya.

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Anak Umum

Sumber
Judul Buku: 
Raising Kids to Love Jesus 1: Memahami Anak Sesuai dengan Kecenderungan Kepribadiaannya
Pengarang: 
H. Norman Wright dan Gary J. Oliver
Halaman: 
48 -- 52
Penerbit: 
Gloria Graffa, Yogyakarta 2003

Komentar