Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Mengajarkan Konsep Teologia kepada Anak


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Sering kali, orang tua dan guru mengaitkan proses belajar dengan pengetahuan dasar sebelumnya. Seorang anak dikatakan sudah "mempelajari" sesuatu apabila dia bisa mengulang sesuatu yang sudah dipelajarinya. Tetapi, hal itu tidak dapat memenuhi kebutuhan anak dalam kehidupan sehari-hari. Mengulang sesuatu yang dipelajari adalah awal dari proses belajar, tetapi tentu saja tidak cukup sampai di situ.

Ada empat langkah yang perlu dilakukan untuk dapat mengajarkan teologia dengan efektif kepada anak. Pengetahuan dasar adalah hal pertama yang perlu ditanamkan. Mengetahui adalah langkah yang diperlukan karena seseorang harus melihat dengan jelas apa itu kebenaran dan apa yang dikatakan Alkitab, sebelum seseorang bisa memahaminya.

Langkah kedua adalah memahami atau melihat dengan jelas apa arti kebenaran Alkitab itu. Seorang pelajar tidak mungkin melangkah ke tahap belajar berikutnya, sebelum dia memahami apa yang akan dia tanamkan dalam hidupnya.

Langkah ketiga adalah menerapkan. Dalam menerapkan kebenaran Alkitab, pelajar tahu benar apa arti kebenaran baginya. Pelajar tidak hanya memahami apa arti kebenaran saja, tetapi memahami apa arti kebenaran itu dalam hubungannya dengan hidupnya.

Langkah keempat adalah melakukannya. Ketika seorang anak telah mempelajari apakah kebenaran itu, apa artinya, dan apa arti semua itu baginya, maka tibalah saatnya untuk mempraktikkannya.

Ketika seseorang ingin menjadikan kebenaran Alkitab sebagai sesuatu yang penting bagi seorang anak, amatlah penting untuk membantu anak tersebut agar menyatukan kebenaran itu dalam hidupnya. Dengan demikian, keempat langkah dalam pembelajaran yang baik ini dapat tercapai.

MENGENALI ANAK YANG AKAN ANDA BIMBING

  1. Anak adalah seorang individu.

    Pemindai sidik jari, suara, dan alat pendeteksi lainnya menunjukkan apa yang telah kita ketahui sejak lama: tidak ada orang yang sama persis dengan anak Anda. Anak Anda adalah ciptaan yang unik. Tuhan menciptakan anak Anda berbeda dengan anak-anak yang lain, meskipun usianya sama.

    Oleh sebab itu, Anda perlu mengetahui karakteristik umum anak yang sebaya atau yang berada pada tingkat belajar yang sama dengan anak Anda. Sebab Anda tidak bisa memungkiri tanggung jawab Anda untuk mengenal anak Anda sebagai seorang individu. Berdiskusilah secara intim dengan mereka. Cobalah untuk memahami apa yang anak Anda pikirkan dan mengapa dia memikirkan hal tersebut. Anda akan mampu mengajarkan doktrin dengan lebih efektif kepada anak Anda, jika Anda memahami siapa dia dan bagaimana dia belajar.

  2. Anak bukan orang dewasa yang masih kecil.

    Mengajar seorang anak tidak hanya sekadar menyampaikan konsep pemikiran orang dewasa. Mengajar seorang anak berarti "menyesuaikan" (customizing) konsep pemikiran itu dengan tingkat belajar anak. Guru yang berbicara seolah dia lebih pintar daripada si anak, justru tidak akan menarik perhatian anak.

    Seharusnya, guru tidak mengharapkan kedewasaan di luar proses perkembangan anak. Sering kali, kita mendengar orang tua atau guru berkata, "Saya tidak tahu mengapa dia sepertinya tidak tertarik untuk berdoa atau membaca Alkitabnya." Kadang-kadang, kita berharap anak-anak mempunyai suatu sikap dewasa yang alaminya akan diperoleh bertahun-tahun kemudian.

    Ingatlah bahwa mungkin anak Anda mengalami gangguan dalam belajar, gangguan yang tidak Anda rasakan sebagai orang dewasa. Suasana dan keamanan di rumah, hubungan dengan orang tua dan anggota keluarga lainnya, suasana di sekolah dalam minggu itu, kesehatan, dan kebiasaan tidurnya -- semua itu memengaruhi minatnya dalam mempelajari kebenaran Alkitab. Hal ini tidak berarti bahwa anak tersebut tidak tertarik pada hal-hal rohani. Anak tersebut mungkin saja memiliki ketertarikan terhadap banyak hal. Anda tidak bisa mengetahui hal ini, sampai Anda tahu bahwa anak tersebut menjadi seorang yang dewasa.

  3. Anak adalah seseorang yang utuh (total person).

    Anak Anda adalah campuran yang kompleks dari tubuh, jiwa, pikiran, keturunan, pengalaman, reaksi, sikap, ingatan, dan bentukan-bentukan dari hal-hal lainnya. Anda mengajar kepada seseorang yang utuh, bukan hanya ingatan atau jiwa saja.

    Beberapa campuran yang kompleks itu ada di luar kendali anak. Dia tidak memilih keluarga atau keturunan. Dia tidak memilih sendiri tubuh, jiwa, ataupun ingatannya. Beberapa pengalaman yang mereka dapatkan, direncanakan oleh orang-orang yang tinggal bersama mereka.

    Seorang anak yang begadang menonton teve pada Sabtu malam, bisa jadi tidak terlalu tertarik pada pengajaran Alkitab yang Anda berikan pada keesokan harinya (Minggu pagi). Seorang anak sekolah minggu yang berasal dari keluarga yang tidak harmonis, mungkin tidak bisa dengan cepat memahami indahnya menjadi keluarga Allah.

    Sebuah doktrin akan lebih tepat untuk diajarkan bila menggunakan konteks kehidupan sehari-hari. Anda tidak bisa memisahkan diri Anda sendiri dari pengalaman, keturunan, kehidupan keluarga, dan faktor-faktor penentu lainnya yang dialami oleh anak. Anda juga tidak bisa mengharapkan keberhasilan dalam mengajarkan doktrin tersebut kepada anak. Kenali anak Anda, kenali anak tersebut sebagai pribadi yang utuh. Barulah Anda bisa mengajarkan doktrin yang bisa mengubah hidupnya.

BEBERAPA METODE

Mengajar seorang anak berarti menjelaskan kebenaran kepadanya, bukan mengendalikan ingatannya. Jika kita ingin membentuk anak sesuai dengan gambar diri kita, itu artinya kita sedang mempermainkan Allah. Tugas kita adalah menjelaskan kebenaran dan mengajak anak itu agar menjadi murid yang bahagia di dalam Allah dan mau memberikan hidupnya bagi Kristus -- mau membentuk hidupnya sesuai dengan gambar Allah.

Hal ini memberi kita, orang tua dan guru, tanggung jawab yang kadang-kadang membuat kita takut. Namun, ketika kita menerima tanggung jawab ini sebagai rekan kerja Allah, tanggung jawab ini akan menjadi pengalaman yang berharga dan memperkaya kita.

Sering kali di dalam pikiran kita, kata "mengajar" membentuk gambaran pengalihan pengetahuan secara langsung kepada seorang murid. "Berikut ini beberapa kebenaran yang harus kalian pelajari. Sekarang pelajari kebenaran-kebenaran ini dan lakukanlah." Ini adalah contoh pendekatan langsung atau pernyataan langsung.

Sebagai orang tua dan guru, kita harus waspada terhadap apa yang diajarkan secara alkitabiah dan teologis kepada anak-anak kita, ketika mereka berpindah dari satu tingkat/level departemen ke program gereja lainnya. Bahkan, ketika kita memikirkan untuk memenuhi kebutuhan seseorang yang seutuhnya, kita perlu memikirkan pelayanan untuk anak-anak secara keseluruhan -- apa yang diajarkan kepada mereka pada saat sekolah minggu, di gereja, kelompok pelayanan, sekolah alkitab liburan, dan pelayanan-pelayanan lain yang menyentuh hidup mereka.

Beberapa bagian dari teologi sangat tepat diajarkan atau ditekankan pada tingkat-tingkat usia tertentu pada masa kanak-kanak. Dasar kebenaran yang diajarkan pada masa awal kanak-kanak, diperluas dan diperkaya karena pada tahun-tahun ini anak-anak tumbuh dan berkembang. Pelayanan yang berbeda bisa menekankan berbagai aspek teologia sehingga anak-anak akan mendapatkan pengajaran yang utuh dan seimbang. Penelitian tentang apa yang diajarkan di semua level untuk anak-anak akan sangat menolong. Beberapa pengajaran teologia mungkin memerlukan penekanan yang lebih dalam, sedangkan ajaran yang lain bisa jadi tidak sesuai dengan level yang diajar.

Sangat penting untuk mengajar secara literal dan konkret. Simbol-simbol, penyamarataan, dan gagasan yang abstrak sebaiknya tidak digunakan, khususnya untuk anak-anak level awal. Penjelasan yang cermat tentang kebenaran teologis, yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, harus menjadi bagian dari keseluruhan pengajaran.

Suatu program pembelajaran Alkitab dan teologia yang konsisten dan jelas harus dibangun sejak awal masa kanak-kanak melalui level junior. Rencana harus dibuat untuk menjembatani mereka yang kurang memiliki latar belakang dalam pengajaran Alkitab melalui pembukaan kelas baru, membaca Alkitab di rumah, dan program-program untuk pribadi.

Pertemuan antara guru dan orang tua yang memungkinkan terjadinya pertukaran informasi dan tetap terjalinnya komunikasi untuk bekerja sama akan sangat membantu. Gereja harus melengkapi pelatihan yang dilakukan di rumah tanpa mengambil alih tanggung jawab orang tua terhadap perkembangan rohani anak.

Beberapa orang tua dan guru dapat merasakan efektivitas pendekatan secara langsung, baik dalam pendidikan umum, maupun dalam pendidikan Kristen. Namun, ada cara lain yang efektif dalam melakukan tugas ini.

Pendekatan tidak langsung sangat membantu beberapa orang tua dan guru. Dalam pendekatan ini, pendidikan dicapai tidak melalui pernyataan, tetapi melalui motivasi. Seorang anak akan lebih banyak belajar pada saat dia ingin belajar. Apabila kebenaran diajarkan pada saat seperti ini, mereka akan tertarik dan senang untuk mempelajarinya.

Dr. Seuss, "Sesame Street", dan Walt Disney telah menunjukkan efektivitas pendekatan ini dalam pembelajaran umum. Pendekatan ini belum begitu banyak digunakan dalam literatur Kristen untuk anak-anak. Berikut beberapa metode yang dapat berguna dalam pendekatan tidak langsung.

  1. Contoh
    Keberadaan Anda sebagai orang tua atau guru mungkin lebih menonjol daripada apa yang Anda katakan. Jika Anda mengizinkan doktrin bekerja dalam hidup Anda sendiri, hal ini akan dilihat anak karena dia mencontoh Anda. Anda benar-benar seperti buku hidup.

  2. Membaca
    Gladys Hunt telah menulis sebuah buku yang sangat bagus tentang hasil yang kita terima apabila kita membaca dengan baik bersama anak-anak dan belajar tentang nilai-nilai yang ada dalam bacaan itu. Beliau menunjukkan, kita tidak boleh membatasi diri dalam membaca buku-buku yang "alkitabiah" atau "rohani". Beberapa nilai yang membangun hidup kita, berasal dari buku-buku besar yang ada sekarang ini, yang dahulu sering kali mendukung beberapa doktrin penting yang kita ajarkan.

  3. Membagikan pengalaman-pengalaman
    Menjelajah hutan, mengadakan perjalanan dengan mengendarai mobil, berjalan-jalan di sekitar tempat tinggal, atau pengalaman-pengalaman lain yang melibatkan murid dan guru, bisa menjadi sangat berharga. Dalam konteks pengalaman-pengalaman ini, ada banyak hal yang bisa diajarkan tentang Tuhan dan rencana-rencana-Nya bagi kita. Claudia Royal menunjukkan nilai-nilai dari menyatukan alam dengan Allah yang menciptakan semua yang ada di dalamnya.

    Pengalaman ada di mana-mana. Pengalaman-pengalaman itu menunggu setiap guru dan murid untuk berpartisipasi dan belajar di dalamnya.

  4. Percakapan
    Sebuah percakapan akan menghubungkan pikiran dan hati Anda dengan pikiran dan hati anak Anda. Jelas percakapan dibutuhkan sehingga Anda lebih mengenal anak Anda. Tidak ada cara efektif lain untuk menemukan pikiran dan sikap yang terdalam. Berikan pertanyaan yang jawabannya lebih dari sekadar ya atau tidak. Bantulah anak untuk menunjukkan ide-ide dan pikiran mereka sendiri, untuk mengatakan mengapa dia berpikiran demikian.

    Percakapan bisa muncul dengan alami melalui pengalaman yang dibagikan oleh guru dan murid. Adakah yang lebih alami daripada percakapan tentang Allah, sang pencipta, ketika Anda berjalan-jalan bersama di hutan atau ketika Anda duduk didekat api unggun dan menatap bintang?

  5. Musik dan menyanyi
    Lagu-lagu Kristen dipenuhi dengan konsep teologia yang penting bagi anak-anak. Pelajaran tentang doktrin bisa ada dalam lagu untuk anak-anak, himne-himne yang indah, lagu-lagu pujian. Ada sesuatu yang membuat konsep doktrin yang dilagukan itu terus melekat dalam ingatan dan merasuk ke dalam hati. Siapa yang tidak ingat lagu-lagu yang dipelajari ketika menjadi murid sekolah minggu? Lagu-lagu itu adalah teologi. Lagu-lagu itu menyentuh ingatan dan hati anak-anak. Hanya saja, karena lagu-lagu itu dinyanyikan, tentunya lebih mudah diingat. Ada suatu keindahan saat menyanyi sebagai satu keluarga. Menyanyi bersama-sama tidak hanya mengajar, tetapi juga membantu menyatukan seluruh keluarga.

  6. Membaca gambar
    Sebelum anak mulai bisa membaca, dia belajar untuk "membaca" gambar. Guru atau orang tua bisa menunjukkan beberapa benda yang ada dalam gambar untuk memfokuskan perhatian anak pada kegiatan yang diadakan. Tetapi, anak akan menemukan lebih banyak gambar, daripada yang ditemukan oleh orang dewasa. Secara spontan, anak-anak akan menemukan benda-benda yang mungkin dilewatkan oleh orang dewasa.

    Kenneth A. Taylor menggunakan metode ini dalam "The Bible in Picture for Little Eyes". Dengan memberi pertanyaan yang memfokuskan perhatian pada hal-hal tertentu, orang tua dan guru membantu anak belajar berbagai kebenaran Alkitab yang penting. Buku-buku cerita Alkitab yang disertai dengan pertanyaan-pertanyaan di akhir cerita, misalnya "The Victor Family Story Bible", yang ditulis oleh V. Gilbert Beers dan Ronald A. Beers.

Banyak cara lain yang bisa digunakan, tetapi metode-metode yang lebih jelas ini akan mendorong Anda untuk memikirkan metode lain. Guru dan orang tua yang kreatif akan membuat berbagai metode tidak langsung yang dapat membantu anak untuk mempelajari doktrin.

Sangat penting bagi Anda untuk mencari kesempatan dalam kehidupan sehari-hari yang bisa menolong anak Anda untuk mempelajari kebenaran sejati dalam Alkitab. Ini merupakan bentuk pendidikan yang Allah perintahkan kepada umat-Nya untuk dilakukan pada zaman Musa, "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun" (Ulangan 6:6-7). (t/Dian dan Ratri)

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Artikel: 
Teaching Theological Concept to Children
Judul Buku: 
Childhood Education in the Church
Pengarang: 
Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck
Halaman: 
367, 374 -- 378
Penerbit: 
Moody Press
Kota: 
Chicago
Tahun: 
1986

Komentar